<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yayasan Peduli Konservasi Alam Indonesia - PEKA-INDONESIA.ORG &#187; research</title>
	<atom:link href="http://www.peka-indonesia.org/tag/research/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.peka-indonesia.org</link>
	<description>Konservasi, Yayasan, Foundation, Indonesia, Indonesia Foundation, Indonesia Conservation Foundation, Konservasi Hutan, Konservasi Alam Indonesia, Pendidikan Lingkungan, Pengembangan Masyarakat, Serangga, Penelitian Serangga, Insect Conservation, Insect Research, PEKA Indonesia Foundation, Peduli Konservasi Alam Indonesia Foundation</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Nov 2009 14:21:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Spesies Asing Invasif: Akankah Mengubah Wajah Bumi Kita?</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/research/spesies-asing-invasif-akankah-mengubah-wajah-bumi-kita/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/research/spesies-asing-invasif-akankah-mengubah-wajah-bumi-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 16:17:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[research]]></category>
		<category><![CDATA[Biodiversity]]></category>
		<category><![CDATA[insect]]></category>
		<category><![CDATA[island]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.peka-indonesia.org/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Mungkinkah wajah bumi kita akan berubah karena penyebaran spesies invasif yang begitu cepat dari tempat asalnya ke ke berbagai belahan dunia?.  Pertanyaan ini muncul dalam Konferensi Internasional “Biodiversity Crisis in Tropical Islands” yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 11-13 Juni 2007 lalu.   Para Ilmuwan dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia hadir pada konferensi ini untuk membicarakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="Eceng Gondok" src="http://img301.imageshack.us/img301/7994/encenggondokjpg.jpg" alt="" width="301" height="227" />Mungkinkah wajah bumi kita akan berubah karena penyebaran spesies invasif yang begitu cepat dari tempat asalnya ke ke berbagai belahan dunia?.  Pertanyaan ini muncul dalam Konferensi Internasional “Biodiversity Crisis in Tropical Islands” yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 11-13 Juni 2007 lalu.   Para Ilmuwan dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia hadir pada konferensi ini untuk membicarakan berbagai isu terkait dengan krisis keanekaragaman hayati di wilayah kepulauan tropis.  Salah satu isu hangat yang mengemuka adalah penyebaran spesies asing invasif dari negara asal ke berbagai penjuru dunia yang diperkirakan akan mampu mengubah lansekap permukaan bumi ini.  Perubahan ini sangat dimungkinkan karena masuknya spesies asing yang bersifat invasif ke dalam suatu wilayah yang sama sekali baru akan dapat mempengaruhi keanekaragaman dan struktur komunitas organisme lokal.  Umumnya, spesies seperti ini memiliki sifat mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan mampu berkompetisi dengan spesies lokal di habitat yang sama.  Beberapa contoh yang dapat dengan mudah dilihat adalah tumbuhan enceng gondok (Eichornia crasipes) yang merupakan tumbuhan air yang menginvasi permukaan perairan tawar di berbagai wilayah di Indonesia,  Kirinyu (Cromolaena Odorata), tumbuhan darat yang mampu menginvasi baik di dataran rendah hingga dataran tinggi, dan semut Anoplolepis gracilipes.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana Invasi Spesies terjadi dan apa dampak yang bisa ditimbulkan?</strong><br />
Dalam suatu ekosistem yang stabil tanpa adanya gangguan, beragam spesies lokal akan hidup di dalamnya dan terjadi suatu interaksi baik antar spesies ataupun spesies dengan lingkungan fisiknya sehingga tercipta suatu siklus biologi yang tidak terputus dan membentuk proses ekologi yang berkesinambungan. Jika suatu spesies asing masuk ke dalam habitat yang baru, setidaknya terdapat tiga kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, spesies baru tidak mampu beradaptasi dengan habitat baru dan akhirnya populasinya punah di habitat tersebut. Ke dua, spesies mampu beradaptasi tetapi populasinya tidak berkembang pesat, sehingga keberadaannya memperkaya komunitas lokal.  Ke tiga, spesies mampu beradaptasi dan populasinya berkembang pesat, sehingga mampu berkompetisi dengan baik dengan spesies lokal dalam segi ruang maupun makanan.  Pada situasi pertama dan ke dua, mungkin kehadiran spesies baru tidak memberikan dampak negatif terhadap ekosistem.  Tetapi pada situasi ke-tiga, hadirnya spesies baru ini memiliki potensi yang cukup besar untuk mendominasi ekosistem.  Kemampuan adaptasi yang baik dengan lingkungan, perkembangbiakan yang cepat, serta kemampuan berkompetisi dalam ruang dan makanan  yang cukup tinggi dapat membuatnya menjadi spesies dominan di wilayah yang baru. Perkembangan populasi spesies asing invasif ini akan mengubah struktur komunitas ekosistem, jaring-jaring makanan, dan pada akhirnya mempengaruhi proses-proses ekologi yang ada. Apa yang terjadi dengan spesies lokal?. Beberapa spesies lokal mungkin akan dapat bertahan, tetapi bagi spesies lokal yang memiliki relung yang sama, namun tidak mampu berkompetisi baik dari segi ruang dan makanan, maka spesies ini akan lenyap.  Beberapa spesies asing invasif, misalnya enceng gondok diketahui memiliki senyawa kimia yang dapat mengakibatkan kematian tumbuhan air yang ada di sekitarnya.  Jika proses dominansi ini terus berlanjut, maka  homogenisasi biota tidak dapat dihindarkan.   Hasil penelitian salah satu mahasiswa S3 dari IPB, membuktikan bahwa homogenisasi enceng gondok telah terjadi di berbagai wilayah perairan di Jawa Barat.  Dari penelitian tersebut diketahui bahwa keberadaan enceng gondok menghilangkan kesempatan tumbuhan air lokal untuk bertahan hidup.  Apa yang terjadi apabila spesies invasif ini memiliki daya sebar yang tinggi?.  Homogenisasi biotik akan terjadi dimana-mana, sehingga kepunahan spesies lokal tidak dapat dihindari.  Disamping itu, proses-proses ekologi yang menyangga kestabilan ekosistem akan secara drastis berubah karena hadirnya spesies baru yang dominan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana spesies-spesies tersebut menyebar?</strong><br />
Penyebaran spesies asing invasif yang begitu cepat ke berbagai penjuru dunia, telah menimbulkan kecemasan para peneliti terhadap apa yang disebut “biological replacement”, yang disertai homogenisasi biotik.  Bagaimana spesies-spesies tersebut dapat menyebar, masih menjadi perdebatan yang cukup hangat.  Pada intinya, penyebaran ini dapat terjadi baik secara aktif maupun pasif atau keduanya tergantung pada karakteristik dari spesies tersebut.  Pada organisme bersayap yang mampu terbang seperti burung, capung, dan kupu-kupu, dapat secara aktif bermigrasi dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa bantuan.  Pada organisme yang tidak bersayap, migrasi hanya bisa dilakukan secara aktif dengan berjalan, namun akan menghadapi berbagai keterbatasan, misalnya barier laut.  Pada umumnya, organisme seperti ini dapat tersebar luas karena terbawa oleh organisme yang lain. Banyak ilmuwan percaya bahwa penyebaran spesies asing invasif ini terjadi karena bantuan manusia.  Misalnya enceng gondok, tanaman ini dapat menyebar ke Indonesia dari asal daerah yang sangat jauh, Brazil, karena dibawa oleh manusia untuk digunakan sebagai tanaman hias.  Namun saat ini bisa kita lihat bahwa di berbagai daerah perairan di Indonesia dari Papua hingga Sumatera telah terinfestasi oleh enceng gondok.   Dari beberapa fakta diketahui bahwa tumbuhan darat eksotik invasif Cromolaena odorata yang banyak ditemukan di Jawa, kini dapat ditemukan di beberapa pulau di Kepulauan Seribu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa Implikasinya Bagi Indonesia sebagai Negara Kepulauan?</strong><br />
Pertanyaan kemudian yang muncul adalah apa implikasinya bagi Indonesia?.  Sebagai  negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau dalam berbagai ukuran dari yang kecil hingga besar, Indonesia menghadapi tantangan yang sangat besar.  Mengapa demikian?. Hingga saat ini, kekayaan spesies yang mendiami pulau-pulau tersebut belum banyak diketahui karena sedikitnya penelitian yang dilakukan.  Keanekaragaman spesies suatu pulau sangatlah tergantung pada ukuran pulau dan jarak pulau dari daratan utama.  Semakin kecil dan semakin jauh pulau dari daratan utama, maka kemampuan pulau untuk mendukung keanekaragaman spesies yang hidup di dalamnya sangat terbatas.  Eksistensi suatu spesies pada kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan dan berkompetisi untuk memperebutkan ruang dan makanan. Apa yang terjadi jika spesies asing invasif ini masuk dan berkembang di pulau-pulau kecil tersebut?.  Pernahkan kita membayangkan bahwa suatu pulau yang pada awalnya hidup berbagai jenis tumbuhan, kemudian berubah menjadi hanya satu atau dua tumbuhan saja yang mendominasi pulau tersebut karena masuknya tumbuhan asing invasif yang mengambil alih habitat?.  Kita akan banyak kehilangan spesies yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Jika hal ini banyak terjadi di berbagai belahan dunia, akankah wajah bumi berubah?.</p>
<p style="text-align: justify;">(<strong>Bandung Sahari</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/research/spesies-asing-invasif-akankah-mengubah-wajah-bumi-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gajah di dunianya yang kecil</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/uncategories/gajah-di-dunianya-yang-kecil/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/uncategories/gajah-di-dunianya-yang-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 02:49:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nitawiyesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategoriez]]></category>
		<category><![CDATA[Biodiversity]]></category>
		<category><![CDATA[hutan lestari]]></category>
		<category><![CDATA[research]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[Konflik antara satwa dengan manusia tidak terelakkan juga terjadi pada gajah. Permasalahan perebutan wilayah antara gajah dan manusia juga belum berakhir. Manusia mengklaim banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh gajah. Di India menurut Prof.Raman Sukumar terjadi beberapa kasus  gajah-gajah yang memakan tanaman  pertanian seperti jagung dan padi. Karena merasa dirugikan oleh perilakunya, maka gajah-gajah banyak diburu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="elephant-picture" src="http://fohn.net/elephant-pictures-facts/images/elephant-closeup.jpg" alt="" width="346" height="258" />Konflik antara satwa dengan manusia tidak terelakkan juga terjadi pada gajah. Permasalahan perebutan wilayah antara gajah dan manusia juga belum berakhir. Manusia mengklaim banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh gajah. Di India menurut Prof.Raman Sukumar terjadi beberapa kasus  gajah-gajah yang memakan tanaman  pertanian seperti jagung dan padi. Karena merasa dirugikan oleh perilakunya, maka gajah-gajah banyak diburu untuk dibunuh, sehingga jumlahnya semakin berkurang.</p>
<p>Dalam seminar yang diselenggarakan Fahutan IPB dengan Peka Indonesia, beliau membeberkan beberapa hasil penelitiannya, diantaranya wilayah jelajah gajah yang semakin meluas, untuk menemukan makanan. Kawanan gajah yang jumlahnya semakin menurun, harus berjalan bermil-mil lebih jauh dibandingkan masa-masa sebelumnya. Hal ini karena wilayah hutan yang semakin sempit, tidak mencukupi kebutuhan makan mereka.</p>
<p>Lahan pertanianmenjadi sumber makanan baru. Gajah-gajah menyukai tanaman pertanian, selain lebih mudah didapat karena sudah ditanam secara besar, tanaman ini juga memberi nutrisi yang dibutuhkan. Seekor gajah rata-rata membutuhkan makanan sekitar  1/10 dari berat badannya, ini adalah jumlah yang cukup banyak bila diambil dari lahan pertanian.</p>
<p>Perlu kearifan dalam upaya-upaya untuk mengurangi dampak yang lebih besar dari konflik ini. Salah satu contohnya penduduk di India menanam tanam-tanaman yang beraroma tajam dan pedas sebagai pagar hidup. Gajah tidak menyukai aroma yang dihasilkan tanaman, sehingga akan mencari jalan lain. Dengan cara ini, secara tidak langsung menghalau gajah-gajah untuk masuk ke kawasan tertentu tanpa menyakitinya secara fisik. Penataan ruang yang tepat sangat penting, agar gajah-gajah memiliki kawasannya sendiri yang menyediakan kebutuhan makanan yang diperlukan. Membangun kesadaran untuk turut mengkonservasi keberadaan gajah dengan cara-cara yang bijak adalah solusi terbaik bagi permasalahan ini. (nw)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/uncategories/gajah-di-dunianya-yang-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia and Islands</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/conservation/indonesia-and-islands/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/conservation/indonesia-and-islands/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 06:27:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[conservation]]></category>
		<category><![CDATA[research]]></category>
		<category><![CDATA[Global Warming]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[insect]]></category>
		<category><![CDATA[island]]></category>
		<category><![CDATA[wallace]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[It is not too much to say that when we have mastered the difficulties presented by the peculiarities of island life we shall find it comparatively easy to deal with the more complex and less clearly defined problems of continental distribution (Wallace, 1902) These words taken from Alfred Russell Wallaces Island Life encapsulate an over-aching [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">It is not too much to say that when we have mastered the difficulties presented by the peculiarities of island life we shall find it comparatively easy to deal with the more complex and less clearly defined problems of continental distribution (Wallace, 1902) These words taken from Alfred Russell Wallaces Island Life encapsulate an over-aching idea that could be termed the central paradigm of island biogeography. It is that islands, being discrete, internally quantifiable, numerous, and varied entities, provide us with a suite of natural laboratories, from which the discerning natural scientist can make a selection that simplifies the complexity of the natural world, enabling theories of general importance to be developed and tested (Whittaker, 2007).</p>
<p style="text-align: justify;">The scarcity of kinds-the richness in endemic forms in particular classes or section of classes, &#8211; the absence of whole group, as of batrachians, and of terrestrial mammals notwithstanding the presence of aerial bats, &#8211; the single proportions of certain orders of plants, &#8211; herbaceous forms having developed into trees,- seem to me to accord better with the view of occasional means of transport having been largely efficient in the long course of time, than with the view of all our oceanic islands having been formerly connected by contiguous land with the nearest continent (Darwin, 1859).In terms of biodiversity, the issue is clearer: islands boast a truly unique assemblage of life. Species become island dwellers either by drifting on islands, like castaways, as they break off from larger landmasses (in the case of continental islands) or by dispersing across the ocean to islands newly emerged from the ocean floor (oceanic islands). Henceforth they are confined to small, isolated areas located some distance from other large landmasses. Over time, this isolation exerts unique evolutionary forces that result in the development of a distinct genetic reservoir and the emergence of highly specialized species with entirely new characteristics and the occurrence of different adaptations. The legacy of a unique evolutionary history, many island species are endemic found nowhere else on Earth. Islands harbour higher concentrations of endemic species than do continents, and the number and proportion of endemics rises with increasing isolation, island size and topographic variety. It has often been remarked that islands make a contribution to global biodiversity that is out of proportion to their land area. In this sense, they can be thought of collectively as biodiversity hot spots, containing some of the richest reservoirs of plants and animals on Earth (CBD, 2007) Indonesia has already lost some of its biodiversity through human activity, and forests have become fragmented through expansion of agriculture and housing. Research has been conducted into the effects of fragmentation on biodiversity using insects as an indicator (Hunter 2000; Gonzalez 2000). PEKA Indonesia has been conducting research on Island Biogeography since 2003, in Thousand Island Sanctuary (Northern Sea of Jakarta Bay), Java. The Thousand Island Sanctuary is proposed as a research location because it represents tropical islands with varying land use patterns. Several islands of the Sanctuary have been dramatically modified and used for human habitation and tourism, which brings new threats for many of their native species (some of which may be endemic). Previous surveys indicated that human activities have aided the distribution of invasive alien ant species Anoplolepis gracilipes and Solenopsis geminata in several small islands of Kepulauan Seribu Sanctuary, which can be a threat to the endemic local ant populations (Rizali, 2006).The Highlights of PEKA Indonesia research on Island Biogeography: 1. PREVIOUS RESEARCH Species Richness and Structure of Ant Communities in Small Tropical Islands: Effect of Area, Island isolation, Land Use, and presence of Boat Docks. (Akhmad Rizali) This research was conducted to study species richness and community structure of ant on small island. Eighteen islands differing in area, isolation from the mainland, land use history, and the presence of boat docks were selected to study these effects on species richness and the stucture of ant communites. Island characteristics were measured with geographical information system (GIS). Ant sampling was conducted using intensive collecting in 5m x 5m plots established in representative habitats. Species accumulation curves in combination with techniques extrapolating the total expected species richness were used to estimate the completeness of species inventories. Non-metric multidimentional scaling analysis (MDS) and canonical correspondence analysis (CCA) were used to study relationship between ant and island characteristics. Over 48 species from subfamilies and 28 genera were recorded from all islands. While the species accumulation curve from all islands reached saturation, the curves for some islands indicated that still not all species were recorded by the sampling. MDS showed that island characteristic tend to influence species composition. Similarly, based on CCA, the occurrence of certain species was highly related to island characteristics. A total of 8 cryptic and 3 exotic invasive species were recorded. Most of these are widespread within the archipelago. The presence of nearly all cryptic species was strongly influenced by island isolation and land use. These species have a high potential as indicators for land use change. Furthermore, the occurrence of invasive ant species was related to the occurrence of docks, and their presence seemed ta have impact to ant diversity on the islands. Human-induces habitat modification on islands were identified as the main factor for the occurrence and distribution of tramp species within Seribu islands. Intensive and varied collecting methods are effective for characterizing ant species richness on islands. Ant diversity in Seribu Islands was affected by several island characteristics including area, isolation, land use, and the occurrence of docks on islands. Combination of all island characteristics were highly related to ant diversity in Seribu Islands. Highly disturbed habitats on islands in Seribu Islands made certain species disappear 2. ON-GOING RESEARCH Invasive Alien Ants in Small Island of Kepulauan Seribu Sanctuary- Indonesia: Its Possible Impact Toward Local Ant Communities.  (Akhmad Rizali) Alien invasive ant species are major threats to indigene and endemic ant species for small islands such as in Seribu Islands. The main objective of this project is to quantify to which extent invasive ant populations is affecting native ant communities that may be endangered and endemic. The study will clarify how much species are native and endemic, and how much are introduced and invasive. Ecological observation will be conducted in three different islands representing three conditions: highly populated island, unique bird island, and unexplored island. Ants will be surveyed by pitfall traps and intensive collecting method in plots. All information gained from the project will be used to develop conservation strategies of local species in the protected area. 3. POTENTIAL RESEARCH STUDY OF ECOLOGICAL RESILIENCE OF BEETLE DIVERSITY IN TROPICAL ISLANDS IN THE FACE OF HUMAN ACTIVITIES: A CASE STUDY FROM THOUSAND ISLANDS SANCTUARY INDONESIA (Shinta Puspitasari) The Thousand Island Sanctuary, North Coast Jakarta Bay, is proposed as a research location because it represents tropical islands with varying land use patterns. Diversity of invertebrate communities will be analysed in a set of different islands, which are characterized by differing degrees of anthropogenic influence. Pitfall and light traps as well as sweep netting will be used to generate samples of ground beetles and other suitable arthropod taxa to be decided on in the first week of sampling (i.e. taxa which are commonly encountered in large numbers and comparatively easy to identify). These samples will be a basis for the analysis how anthropogenic disturbance as well as island size and isolation influence the diversity and composition of arthropod communities. In addition, a basic set of environmental parameters (temperature, humidity, and vegetation structures) will be recorded during the sampling to analyze potential links between these factors and arthropod species compositions.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/conservation/indonesia-and-islands/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
