Spesies Asing Invasif: Akankah Mengubah Wajah Bumi Kita?
Mungkinkah wajah bumi kita akan berubah karena penyebaran spesies invasif yang begitu cepat dari tempat asalnya ke ke berbagai belahan dunia?. Pertanyaan ini muncul dalam Konferensi Internasional “Biodiversity Crisis in Tropical Islands” yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 11-13 Juni 2007 lalu. Para Ilmuwan dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia hadir pada konferensi ini untuk membicarakan berbagai isu terkait dengan krisis keanekaragaman hayati di wilayah kepulauan tropis. Salah satu isu hangat yang mengemuka adalah penyebaran spesies asing invasif dari negara asal ke berbagai penjuru dunia yang diperkirakan akan mampu mengubah lansekap permukaan bumi ini. Perubahan ini sangat dimungkinkan karena masuknya spesies asing yang bersifat invasif ke dalam suatu wilayah yang sama sekali baru akan dapat mempengaruhi keanekaragaman dan struktur komunitas organisme lokal. Umumnya, spesies seperti ini memiliki sifat mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan mampu berkompetisi dengan spesies lokal di habitat yang sama. Beberapa contoh yang dapat dengan mudah dilihat adalah tumbuhan enceng gondok (Eichornia crasipes) yang merupakan tumbuhan air yang menginvasi permukaan perairan tawar di berbagai wilayah di Indonesia, Kirinyu (Cromolaena Odorata), tumbuhan darat yang mampu menginvasi baik di dataran rendah hingga dataran tinggi, dan semut Anoplolepis gracilipes.
Bagaimana Invasi Spesies terjadi dan apa dampak yang bisa ditimbulkan?
Dalam suatu ekosistem yang stabil tanpa adanya gangguan, beragam spesies lokal akan hidup di dalamnya dan terjadi suatu interaksi baik antar spesies ataupun spesies dengan lingkungan fisiknya sehingga tercipta suatu siklus biologi yang tidak terputus dan membentuk proses ekologi yang berkesinambungan. Jika suatu spesies asing masuk ke dalam habitat yang baru, setidaknya terdapat tiga kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, spesies baru tidak mampu beradaptasi dengan habitat baru dan akhirnya populasinya punah di habitat tersebut. Ke dua, spesies mampu beradaptasi tetapi populasinya tidak berkembang pesat, sehingga keberadaannya memperkaya komunitas lokal. Ke tiga, spesies mampu beradaptasi dan populasinya berkembang pesat, sehingga mampu berkompetisi dengan baik dengan spesies lokal dalam segi ruang maupun makanan. Pada situasi pertama dan ke dua, mungkin kehadiran spesies baru tidak memberikan dampak negatif terhadap ekosistem. Tetapi pada situasi ke-tiga, hadirnya spesies baru ini memiliki potensi yang cukup besar untuk mendominasi ekosistem. Kemampuan adaptasi yang baik dengan lingkungan, perkembangbiakan yang cepat, serta kemampuan berkompetisi dalam ruang dan makanan yang cukup tinggi dapat membuatnya menjadi spesies dominan di wilayah yang baru. Perkembangan populasi spesies asing invasif ini akan mengubah struktur komunitas ekosistem, jaring-jaring makanan, dan pada akhirnya mempengaruhi proses-proses ekologi yang ada. Apa yang terjadi dengan spesies lokal?. Beberapa spesies lokal mungkin akan dapat bertahan, tetapi bagi spesies lokal yang memiliki relung yang sama, namun tidak mampu berkompetisi baik dari segi ruang dan makanan, maka spesies ini akan lenyap. Beberapa spesies asing invasif, misalnya enceng gondok diketahui memiliki senyawa kimia yang dapat mengakibatkan kematian tumbuhan air yang ada di sekitarnya. Jika proses dominansi ini terus berlanjut, maka homogenisasi biota tidak dapat dihindarkan. Hasil penelitian salah satu mahasiswa S3 dari IPB, membuktikan bahwa homogenisasi enceng gondok telah terjadi di berbagai wilayah perairan di Jawa Barat. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa keberadaan enceng gondok menghilangkan kesempatan tumbuhan air lokal untuk bertahan hidup. Apa yang terjadi apabila spesies invasif ini memiliki daya sebar yang tinggi?. Homogenisasi biotik akan terjadi dimana-mana, sehingga kepunahan spesies lokal tidak dapat dihindari. Disamping itu, proses-proses ekologi yang menyangga kestabilan ekosistem akan secara drastis berubah karena hadirnya spesies baru yang dominan.
Bagaimana spesies-spesies tersebut menyebar?
Penyebaran spesies asing invasif yang begitu cepat ke berbagai penjuru dunia, telah menimbulkan kecemasan para peneliti terhadap apa yang disebut “biological replacement”, yang disertai homogenisasi biotik. Bagaimana spesies-spesies tersebut dapat menyebar, masih menjadi perdebatan yang cukup hangat. Pada intinya, penyebaran ini dapat terjadi baik secara aktif maupun pasif atau keduanya tergantung pada karakteristik dari spesies tersebut. Pada organisme bersayap yang mampu terbang seperti burung, capung, dan kupu-kupu, dapat secara aktif bermigrasi dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa bantuan. Pada organisme yang tidak bersayap, migrasi hanya bisa dilakukan secara aktif dengan berjalan, namun akan menghadapi berbagai keterbatasan, misalnya barier laut. Pada umumnya, organisme seperti ini dapat tersebar luas karena terbawa oleh organisme yang lain. Banyak ilmuwan percaya bahwa penyebaran spesies asing invasif ini terjadi karena bantuan manusia. Misalnya enceng gondok, tanaman ini dapat menyebar ke Indonesia dari asal daerah yang sangat jauh, Brazil, karena dibawa oleh manusia untuk digunakan sebagai tanaman hias. Namun saat ini bisa kita lihat bahwa di berbagai daerah perairan di Indonesia dari Papua hingga Sumatera telah terinfestasi oleh enceng gondok. Dari beberapa fakta diketahui bahwa tumbuhan darat eksotik invasif Cromolaena odorata yang banyak ditemukan di Jawa, kini dapat ditemukan di beberapa pulau di Kepulauan Seribu.
Apa Implikasinya Bagi Indonesia sebagai Negara Kepulauan?
Pertanyaan kemudian yang muncul adalah apa implikasinya bagi Indonesia?. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau dalam berbagai ukuran dari yang kecil hingga besar, Indonesia menghadapi tantangan yang sangat besar. Mengapa demikian?. Hingga saat ini, kekayaan spesies yang mendiami pulau-pulau tersebut belum banyak diketahui karena sedikitnya penelitian yang dilakukan. Keanekaragaman spesies suatu pulau sangatlah tergantung pada ukuran pulau dan jarak pulau dari daratan utama. Semakin kecil dan semakin jauh pulau dari daratan utama, maka kemampuan pulau untuk mendukung keanekaragaman spesies yang hidup di dalamnya sangat terbatas. Eksistensi suatu spesies pada kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan dan berkompetisi untuk memperebutkan ruang dan makanan. Apa yang terjadi jika spesies asing invasif ini masuk dan berkembang di pulau-pulau kecil tersebut?. Pernahkan kita membayangkan bahwa suatu pulau yang pada awalnya hidup berbagai jenis tumbuhan, kemudian berubah menjadi hanya satu atau dua tumbuhan saja yang mendominasi pulau tersebut karena masuknya tumbuhan asing invasif yang mengambil alih habitat?. Kita akan banyak kehilangan spesies yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Jika hal ini banyak terjadi di berbagai belahan dunia, akankah wajah bumi berubah?.
(Bandung Sahari)