Hutan, dari sekelumit telisik akan “kejatuhan” manusia di bumi
Manusia turun ke bumi sebagai pengemban titah suci,. Sakral memang terasa amanat ini, dalam suatu lingkup dimensi spiritual. Dalam risalah Qur’an malaikat sempat memprotes diciptakanya manusia. “Manusia adalah mahkluk pembuat mala” kira-kira seperti itu malaikat berkata. Memang manusia jadi tercipta dan “terlempar “ ke bumi sebagai konsekwansi ulahnya sendiri, konon karena tidak kuat akan godaan melenakan dari iblis.
Bumi sebelum kehadiran mahkluk ini adalah ekosistem yang koheren, di mana keterjalinan setiap elemennya adalah desain yang “sempurna”. Hutan, sungai, laut dan gunung adalah “tata” dengan getar takzim yang selalu menyebutNya dengan frekuensi yang kita sulit untuk menginsafi. Bagitulah yang agung itu memenuhi bumi. Setelah “kejatuhan” manusia memang menjadi lain. “Laku” baru hadir dengan ritual dan alur yang tidak biasa. Akal, dimensi asing, karena manusia saja yang memiliki, adalah anugerah sekaligus senjata, perangkat mengkonstruksi sekaligus mendekonstruksi apapun itu “tata” yang kurang atau dianggap tidak selaras. Barangkat dari sistem ini, sebenarnya represi terhadap alam sedang dimulai, laku dengan antroposentris tengah diperagakan hingga ribuan tahun. Ketegangan tercipta antara jumlah manusia yang terus meningkat dan sumberdaya alam yang terbatas.
Barangkali ketegangan di atas, ada semacam arus yang mencemaskan setiap masa, setiap alam berbicara lain kepada kita, dengan geletar yang menyebabkan derita. Bencana. Problem ini mengisyaratkan banyak hal yang harus direvisi akan dimensi “penerimaan” manusia itu sendiri, penerimaan akan yang terbatas baik yang ada pada diri sendiri atau yang dapat dipenuhi bumi. Kita menjadi sadar atau tidak akan hal-ikhwal seperi ini, itu adalah pilihan.
Setiap persentuhan kita dengan detik yang berdetak adalah implementasi dari pilihan hidup yang kita jalani. Tepat pada waktu kita tengah menjalani prosesi itu, kita membutuhkan faktor-faktor eksternal, dimensi yang mau tidak mau kita dapat dari lingkungan yang memadai, udara yang bersih, makanan yang sealamiah mungkin. Barangkali dari posisi ini ada yang perlu direnung ulang akan eksistensi kedirian, yang, ternyata hadir dan tidak bisa secara sendiri eksis secara penuh. Dari sinilah menciptakan ekomenis yang paling ideal dan lestari adalah pilihan yang tidak bisa dielakkan.
Barangkali peran itulah yang sering dimainkan hutan tapi sering dilupakan sebagai sistem penunjang eksistensi yang semesta, sebuah konstruksi primordial dan purbawi. Bisa jadi “siklus” atau apapun itu yang berjalin kelindan untuk menganggit yang dinamis seperti mengalir tanpa henti dan belantara rimba adalah orkestra yang bermain di sana. Ia mendendangkan harmoni sebuah simfoni yang menyentuh wilayah manusia yang paling abadi. Barangkali. ( Fatkurrahman Abdul Karim)
Konflik antara satwa dengan manusia tidak terelakkan juga terjadi pada gajah. Permasalahan perebutan wilayah antara gajah dan manusia juga belum berakhir. Manusia mengklaim banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh gajah. Di India menurut Prof.Raman Sukumar terjadi beberapa kasus gajah-gajah yang memakan tanaman pertanian seperti jagung dan padi. Karena merasa dirugikan oleh perilakunya, maka gajah-gajah banyak diburu untuk dibunuh, sehingga jumlahnya semakin berkurang.