<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yayasan Peduli Konservasi Alam Indonesia - PEKA-INDONESIA.ORG &#187; events</title>
	<atom:link href="http://www.peka-indonesia.org/tag/events/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.peka-indonesia.org</link>
	<description>Konservasi, Yayasan, Foundation, Indonesia, Indonesia Foundation, Indonesia Conservation Foundation, Konservasi Hutan, Konservasi Alam Indonesia, Pendidikan Lingkungan, Pengembangan Masyarakat, Serangga, Penelitian Serangga, Insect Conservation, Insect Research, PEKA Indonesia Foundation, Peduli Konservasi Alam Indonesia Foundation</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Nov 2009 14:21:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Burung dan Tumbuhan Obat di pertemuan JPL</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/community/burung-dan-tumbuhan-obat-di-pertemuan-jpl/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/community/burung-dan-tumbuhan-obat-di-pertemuan-jpl/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 02:40:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nitawiyesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[community]]></category>
		<category><![CDATA[conservation]]></category>
		<category><![CDATA[events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=465</guid>
		<description><![CDATA[Presentasi  Adi Kristanto yang berjudul “Peranan ruang terbuka hijau bagi perkembangan burung di Jakarta” menuntut kepedulian audiens.  Mewakili Bird Watch Community ia mengatakan bahwa ruang terbuka hijau kota Jakarta yang menjadi tempat tinggal, singgah dan mencari makan bagi berbagai jenis burung masih berada di bawah luas ideal yang seharusnya 30% dari total luas

wilayah Jakarta. Ruang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Presentasi  Adi Kristanto yang berjudul “Peranan ruang terbuka hijau bagi perkembangan burung di Jakarta” menuntut kepedulian audiens.  Mewakili Bird Watch Community ia mengatakan bahwa ruang terbuka hijau kota Jakarta yang menjadi tempat tinggal, singgah dan mencari makan bagi berbagai jenis burung masih berada di bawah luas ideal yang seharusnya 30% dari total luas</p>
<p><img class="alignleft" title="Burung dan Tumbuhan Obat di pertemuan JPL" src="http://img688.imageshack.us/img688/2982/burungdantanamanobatjpl.jpg" alt="" width="299" height="225" /></p>
<p>wilayah Jakarta. Ruang terbuka Hijau seperti Monas, Hutan di Muara Angke dan wilayah hijau di sekitar condet dan Jakarta Selatan adalah beberapa yang tersisa untuk burung-burung.</p>
<p>Hewan yang diminati untuk dipelihara karena keunikan bulu, suara atau penampilannya ini semakin berkurang jenisnya. Berdasarkan data pengamatan dari Bird Watch Community, di wilayah pesisir Jakarta sedikitnya 6 jenis burung terancam punah.  Jumlah ini akan terus bertambah apabila tidak ada tindakan yang nyata untuk mengatasi permasalahan ini.<br />
Sangat disayangkan perubahan fungsi lahan menjadi pemukiman, lapangan golf dan mal yang paling banyak dibangun di Jakarta. Tanaman di taman kota yang hanya memfokuskan pada segi estetika dan tidak bisa menjadi sumber makanan bagi burung-burung juga perlu ditinjau kembali. Tidak semua burung memiliki kemampuan beradaptasi dengan pertumbuhan kota seperti  burung gereja dan kutilang. Untuk itu ruang terbuka hijau sangat penting keberadaanya, khususnya bagi burung.</p>
<p><img class="alignleft" title="Burung dan Tumbuhan Obat di pertemuan JPL2." src="http://img688.imageshack.us/img688/3619/burungdantumbuhanobatdi.jpg" alt="" width="307" height="229" />Tanggapan aktif dan positif dari audiens yang adalah peserta pertemuan anggota Jaringan Pendidikan Lingkungan Kamis 13 Agustus 2009 lalu juga diberikan pada presentasi kedua. Presentasi  menjadi bagian acara pertemuan ini diharapkan menghidupkan kembali Jaringan Pendidikan Lingkungan yang kini diketuai oleh Koen Setyawan.</p>
<p>Mega Ika dari Peka Indonesia berpartisipasi dengan memaparkan hasil kegiatan penelitian penggalian potensi etnobotani di desa sirnarasa. Penelitian ini berusaha mendokumentasikan pengetahuan masyarakat akan fungsi tumbuhan di sekitar mereka sebagai tanaman obat dan untuk keperluan alat rumah tangga.   Penelitian etnobotani untuk tanaman obat didasari dari perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap obat produksi pabrik. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa hampir  70%  siswa sekolah dasar yang tinggal di desa sirnarasa tidak mengenal tumbuhan obat. Ini menjadi keprihatinan bersama mengingat desa mereka yang dikelilingi oleh hutan, menyimpan potensi yang besar  untuk tumbuhnya berbagai tanaman obat.</p>
<p>Kelemahan lain adalah pengetahuan tentang tanaman obat dan cara penggunaannya hanya diketahui segelintir orang yang masih menggunakan misalnya mak beurang (dukun beranak), bengkong (dukun sunat) dan orang-orang lanjut usia. Tidak ada dokumentasi tertulis yang ditemukan, semua mengandalkan ingatan di kepala. Proses regenerasi dan transfer pengetahuan juga hampir terputus dengan rendahnya minat anak-anak muda untuk mempelajari hal tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, Peka Indonesia merasakan kekhawatiran hilangnya pengetahuan lokal sebagai bagian dari budaya yang sangat berharga.</p>
<p>Berusaha mencari solusi dari permasalahan diatas, diskusi antara audiens mengarah pada pentingnya dirumuskan dan dikembangkan kegiatan yang terbaik untuk terus melestarikan pengetahuan dan jenis tumbuhannya. Faktor ekonomi, konservasi dan budaya harus diramu menjadi kegiatan yang bergengsi dan menarik bagi masyarakat, sehingga diharapkan masyarakat akan sadar dan mandiri dalam melestarikan  dan memanfaatkan tanaman di sekitarnya. (nw)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/community/burung-dan-tumbuhan-obat-di-pertemuan-jpl/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dede Yusuf Tebar Ikan Kampanyekan Balad Kuring</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/events/dede-yusuf-tebar-ikan-kampanyekan-balad-kuring/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/events/dede-yusuf-tebar-ikan-kampanyekan-balad-kuring/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 07:37:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[BOGOR &#8211; Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf terus mengkampanyekan Balad Kuring sebagai gerakan prolingkungan di Jawa Barat. Hal tersebut diungkapkannya saat menebar ribuan bibit ikan di Danau Situ Gede di Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Senin (25/5).
Dede Yusuf menjelaskan, Balad Kuring, yang dalam bahasa Indonesia bermakna sahabat atau teman saya atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">BOGOR &#8211; Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf terus mengkampanyekan Balad Kuring sebagai gerakan prolingkungan di Jawa Barat. Hal tersebut diungkapkannya saat menebar ribuan bibit ikan di Danau Situ Gede di Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Senin (25/5).</p>
<p>Dede Yusuf menjelaskan, Balad Kuring, yang dalam bahasa Indonesia bermakna sahabat atau teman saya atau kita, merupakan program penyelamatan lingkungan di seluruh Jawa Barat, yang bukan program pemerintah atau kepemerintahan. Balad Kuring lahir dari forum masyarakat pemerhati dan pencinta lingkungan, khususnya mayarakat dan lingkungan Jawa Barat.</p>
<p>&#8220;Balad Kuring adalah forum bersama untuk kita semua sadar dan peduli pada lingkungan. Konsepnya seperti organisasi Green Peace-lah, tapi ini ala Jawa Barat,&#8221; kata Dede. Pada kesempatan itu, ia bersama Wali Kota Bogor Diani Budiarto menebar bibit ikan nila sebanyak 100 ribu di Danau Situ Gede.</p>
<p>Penebaran ikan di Danau Situ Gede adalah perkenalan awal dari program Balad Kuring, yang secara resmi akan diluncurkan 30 Mei mendatang. Dede berharap, forum ini nantinya benar-benar menjadi milik masyarakat dan bergulir menjadi suatu gerakan kongkret menyelamatkan lingkungan dari pemanasan bumi.</p>
<p>Langkah nyata itu berupa tindakan masyarakat secara sadar dan tulus, untuk misalnya menjadikan sebuah kawasan lingkungan tinggal/hidupnya menjadi bersih tanpa sampah, tanpa polusi udara, melakukan reboisasi, serta memelihara dan memperluas ruang terbuka hijau.</p>
<p>&#8220;Nanti di 26 kota/kabupaten di Jawa Barat harus ada kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan tanpa sampah, yang berlaku selamanya,&#8221; kata Dede Yusuf.</p>
<p>Adapun Wali Kota Bogor Diani Budiarto memastikan selama kepemimpinannya telah dan terus mengeluarkan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kulitas lingkungan hidup Kota Bogor. Ia mengatakan pemerintahanya terus berupaya menjadikan warga dan Kota Bogor propeningkatan kulitas lingkungan hidup.</p>
<p>&#8220;Kami sudah mulai memproteksi penggunaan lahan dengan mengurangi izin pembangunan perumahan. Kami tidak ingin, lahan terbuka Kota Bogor yang sudah sempit, semakin sempit,&#8221; katanya.</p>
<p>Pemko Bogor pun sedang mempertimbangkan dengan serius untuk memberi instalasi atau alat pemusnah sampah, bagi wilayah-wilayah y ang tidak terjangkau aramada pengangkut sampah. Wilayah di kawasan Bendung Katulampa adalah salah satu wilayah di Kota Bogor yang tidak terjangkau armada truk sampah sehingga banyak wargany a membuang sampah ke Sungai Ciliwung.</p>
<p>&#8220;Kami akan memberi bantuan alat pemusnah sampah agar masyarakat tidak buang sampah sembarangan,&#8221; katanya.</p>
<p>Sedangkan mengenai Danau Situ Gede, Diani memastikan, danau terbesar di Kota Bogor tersebut tidak akan menimbulkan musibah sebagaimana Situ Gintung di Tangerang. Sebab, Danau Situ Gede merupakan danau alam, yang terjadi karena ada cekungan.</p>
<p>Luas danau itu saat ini sekitar empat hektar, dari semula tujuh hektar. Penyempitan danau tersebut akibat pendangkalan sekeliling danau, yang kemudian lahan itu diserobot menjadi tempat hunian. Itu sebabnya, ketika musim hujan, air danau meluap, membanjiri lahan-lahan di sekitarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/events/dede-yusuf-tebar-ikan-kampanyekan-balad-kuring/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Conservation of Flora and Fauna</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/conservation-of-flora-and-fauna-in-the-middle-of-global-warming-and-changing-climate/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/conservation-of-flora-and-fauna-in-the-middle-of-global-warming-and-changing-climate/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 06:25:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[climate change]]></category>
		<category><![CDATA[conservation]]></category>
		<category><![CDATA[Biodiversity]]></category>
		<category><![CDATA[Climate]]></category>
		<category><![CDATA[Climate Changes]]></category>
		<category><![CDATA[events]]></category>
		<category><![CDATA[Global Warming]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategoriez]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[“CONSERVATION OF FLORA AND FAUNA IN THE MIDDLE OF
GLOBAL WARMING AND CHANGING CLIMATE&#8221;
Indonesian Miniature Garden, Jakarta- Indonesia , 22nd of  January 2008


Global warming and climate change has become a global issues and concern within the regional and international levels. In the context of national scope, this issues had grew stronger after Indonesia had been selected [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>“CONSERVATI</strong><strong>ON OF FLORA AND FAUNA IN THE MIDDLE OF<br />
GLOBAL WARMING AND CHANGING CLIMATE&#8221;</strong><br />
Indonesian Miniature Garden, Jakarta- Indonesia , 22nd of  January 2008</p>
<p><a href="http://peka-indonesia.org/conservation-of-flora-and-fauna-in-the-middle-of-global-warming-and-changing-climate/"><br />
</a></p>
<p style="text-align: justify;">Global warming and climate change has become a global issues and concern within the regional and international levels. In the context of national scope, this issues had grew stronger after Indonesia had been selected to become host of the 13th Conference of the Party to the United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC COP 13). The venue took place in Denpasar, Bali. Our earth has already experienced the phenomena of global warming and climate change which leads to hazardous climate events.&amp;nbsp; The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) has released numbers of reserch which has proved that the earth are warming and climate are changing. The IPCC is an independent scientific body under the UNFCCC.</p>
<p style="text-align: justify;">The phenomena of hazardous climate events has an enormous impact to the environment and human livelihood. Global warming and unpattern climate changes threatened farming for food security, clean water availability, human and ecosystem health. Global warming also threatened the existence of small island nations because of the rising of sea level. Eventhough climate changes has become global issue, but there are still many communities around the world who has not known and understand what is global warming and climate changes. Many of us living in developing countries are limited to information on global warming and climate changes. For many developing countries like Indonesia, efforts to develop public awareness on global warming and climate changes are urgently needed in order to enhance public understanding on the issues. In the efforts of spreading awareness on global warming and climate change, Peka Indonesia collaborating with IISES and TMII conducted one day seminar on global warming and climate change.  The seminar was conducted on January 22nd 2007 in Indonesian Miniature Garden, Jakarta with seminar theme Conservation of Flora and Fauna in the middle of changing climate and global warming The aim of this one day seminar is to spread out informations on global warming and climate change to the public especially for the staffs of Indonesian Miniature Garden. Participants will received informations on the effect of global warming to the existence of biodiversity, how we can contribute to minimize carbon emission, and how we can actively involve in the conservation of our nature environment. Thus we can minimize the effects of global warming. On this one day seminar, we invited Dr. Sony Keraf (former minister of environment) as a key note speaker. Dr Keraf gave presentation on the science of global warming and climate change and efforts initiate by countries in the world to adapt to climate change.&amp;nbsp; We also invited 5 other speaker to give prensentation on this seminar, they are, Dr. Suryo Wiyon (Department of Agriculture, IPB), Kuswandono (Gede Pangrango National Park), Dr. Rosicon Ubaidilah (Indonesian Institute of Science), and Arif (Pelangi Foundation). These five speaker gave presentations on the topic of global warming and its effect to the earth environment, effect of global warming to flora and fauna, socializing the result of UNFCCC Bali 2007, and opportunity for public involvement to reduce the effect of global warming. The seminar was attended by 150 participant, mostly from staffs of Indonesian Miniature Garden and several from public in general. We sees that forum-forum seminar like this are still needed in order to spread out the information on global warming and climate change. We envision that through good understanding, the public will increase their awareness toward global warming and will initiate an action to contribute on reducing carbon emission, thus minimalizing the hazardous effects of global warming and climate change.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/conservation-of-flora-and-fauna-in-the-middle-of-global-warming-and-changing-climate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
