<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yayasan Peduli Konservasi Alam Indonesia - PEKA-INDONESIA.ORG &#187; Climate Changes</title>
	<atom:link href="http://www.peka-indonesia.org/tag/climate-changes/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.peka-indonesia.org</link>
	<description>Konservasi, Yayasan, Foundation, Indonesia, Indonesia Foundation, Indonesia Conservation Foundation, Konservasi Hutan, Konservasi Alam Indonesia, Pendidikan Lingkungan, Pengembangan Masyarakat, Serangga, Penelitian Serangga, Insect Conservation, Insect Research, PEKA Indonesia Foundation, Peduli Konservasi Alam Indonesia Foundation</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Nov 2009 14:21:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hutan, dari sekelumit telisik akan “kejatuhan” manusia di bumi</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/community/hutan-dari-sekelumit-telisik-akan-%e2%80%9ckejatuhan%e2%80%9d-manusia-di-bumi/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/community/hutan-dari-sekelumit-telisik-akan-%e2%80%9ckejatuhan%e2%80%9d-manusia-di-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 05:56:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[community]]></category>
		<category><![CDATA[Climate Changes]]></category>
		<category><![CDATA[hutan lestari]]></category>
		<category><![CDATA[illegal logging]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.peka-indonesia.org/community/hutan-dari-sekelumit-telisik-akan-%e2%80%9ckejatuhan%e2%80%9d-manusia-di-bumi/</guid>
		<description><![CDATA[Manusia turun ke bumi sebagai pengemban titah suci,. Sakral memang terasa amanat ini, dalam suatu lingkup dimensi spiritual. Dalam risalah Qur’an malaikat sempat memprotes diciptakanya manusia. “Manusia adalah mahkluk pembuat mala” kira-kira seperti itu malaikat berkata. Memang manusia jadi tercipta dan “terlempar “ ke bumi sebagai konsekwansi ulahnya sendiri, konon karena tidak kuat akan godaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="forest-conservation" src="http://img21.imageshack.us/img21/7820/dscn0127xy.jpg" alt="" width="326" height="244" />Manusia turun ke bumi sebagai pengemban titah suci,. Sakral memang terasa amanat ini, dalam suatu lingkup dimensi spiritual. Dalam risalah Qur’an malaikat sempat memprotes diciptakanya manusia. “Manusia adalah mahkluk pembuat mala” kira-kira seperti itu malaikat berkata. Memang manusia jadi tercipta dan “terlempar “ ke bumi sebagai konsekwansi ulahnya sendiri, konon karena tidak kuat akan godaan melenakan dari iblis.</p>
<p style="text-align: justify;">Bumi sebelum kehadiran mahkluk ini adalah ekosistem yang koheren, di mana keterjalinan setiap elemennya adalah desain yang “sempurna”. Hutan, sungai, laut dan gunung adalah “tata” dengan getar takzim yang selalu menyebutNya dengan frekuensi yang kita sulit untuk menginsafi. Bagitulah yang agung itu memenuhi bumi. Setelah “kejatuhan” manusia memang menjadi lain. “Laku” baru hadir dengan ritual dan alur yang tidak biasa.  Akal, dimensi asing, karena manusia saja yang memiliki, adalah anugerah sekaligus senjata, perangkat mengkonstruksi sekaligus mendekonstruksi apapun itu “tata” yang kurang atau dianggap tidak selaras. Barangkat dari sistem ini, sebenarnya represi terhadap alam sedang dimulai, laku dengan antroposentris tengah diperagakan hingga ribuan tahun. Ketegangan tercipta antara jumlah manusia yang terus meningkat dan sumberdaya alam yang terbatas.</p>
<p style="text-align: justify;">Barangkali ketegangan di atas, ada semacam arus yang mencemaskan setiap masa, setiap alam berbicara lain kepada kita, dengan geletar yang menyebabkan derita. Bencana. Problem ini mengisyaratkan banyak hal yang harus direvisi akan dimensi “penerimaan” manusia itu sendiri, penerimaan akan yang terbatas baik yang ada pada diri sendiri atau yang dapat dipenuhi bumi. Kita menjadi sadar atau tidak akan hal-ikhwal seperi ini, itu adalah pilihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap persentuhan kita dengan detik yang berdetak adalah implementasi dari pilihan hidup yang kita jalani. Tepat pada waktu kita tengah menjalani prosesi itu, kita membutuhkan faktor-faktor eksternal, dimensi yang mau tidak mau kita dapat dari lingkungan yang memadai, udara yang bersih, makanan yang sealamiah mungkin. Barangkali  dari posisi ini ada yang perlu direnung ulang akan eksistensi kedirian, yang, ternyata hadir dan tidak bisa secara sendiri eksis secara penuh. Dari sinilah menciptakan ekomenis yang paling ideal dan lestari adalah pilihan yang tidak bisa dielakkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Barangkali peran itulah yang sering dimainkan hutan tapi sering dilupakan sebagai sistem penunjang eksistensi yang semesta, sebuah konstruksi primordial dan purbawi. Bisa jadi “siklus” atau apapun itu yang berjalin kelindan untuk menganggit yang dinamis seperti mengalir tanpa henti dan belantara rimba adalah orkestra yang bermain di sana. Ia mendendangkan harmoni sebuah simfoni yang menyentuh wilayah manusia yang paling abadi. Barangkali. (  <em>Fatkurrahman Abdul Karim</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/community/hutan-dari-sekelumit-telisik-akan-%e2%80%9ckejatuhan%e2%80%9d-manusia-di-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Conservation of Flora and Fauna</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/conservation-of-flora-and-fauna-in-the-middle-of-global-warming-and-changing-climate/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/conservation-of-flora-and-fauna-in-the-middle-of-global-warming-and-changing-climate/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 06:25:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[climate change]]></category>
		<category><![CDATA[conservation]]></category>
		<category><![CDATA[Biodiversity]]></category>
		<category><![CDATA[Climate]]></category>
		<category><![CDATA[Climate Changes]]></category>
		<category><![CDATA[events]]></category>
		<category><![CDATA[Global Warming]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategoriez]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[“CONSERVATION OF FLORA AND FAUNA IN THE MIDDLE OF
GLOBAL WARMING AND CHANGING CLIMATE&#8221;
Indonesian Miniature Garden, Jakarta- Indonesia , 22nd of  January 2008


Global warming and climate change has become a global issues and concern within the regional and international levels. In the context of national scope, this issues had grew stronger after Indonesia had been selected [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>“CONSERVATI</strong><strong>ON OF FLORA AND FAUNA IN THE MIDDLE OF<br />
GLOBAL WARMING AND CHANGING CLIMATE&#8221;</strong><br />
Indonesian Miniature Garden, Jakarta- Indonesia , 22nd of  January 2008</p>
<p><a href="http://peka-indonesia.org/conservation-of-flora-and-fauna-in-the-middle-of-global-warming-and-changing-climate/"><br />
</a></p>
<p style="text-align: justify;">Global warming and climate change has become a global issues and concern within the regional and international levels. In the context of national scope, this issues had grew stronger after Indonesia had been selected to become host of the 13th Conference of the Party to the United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC COP 13). The venue took place in Denpasar, Bali. Our earth has already experienced the phenomena of global warming and climate change which leads to hazardous climate events.&amp;nbsp; The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) has released numbers of reserch which has proved that the earth are warming and climate are changing. The IPCC is an independent scientific body under the UNFCCC.</p>
<p style="text-align: justify;">The phenomena of hazardous climate events has an enormous impact to the environment and human livelihood. Global warming and unpattern climate changes threatened farming for food security, clean water availability, human and ecosystem health. Global warming also threatened the existence of small island nations because of the rising of sea level. Eventhough climate changes has become global issue, but there are still many communities around the world who has not known and understand what is global warming and climate changes. Many of us living in developing countries are limited to information on global warming and climate changes. For many developing countries like Indonesia, efforts to develop public awareness on global warming and climate changes are urgently needed in order to enhance public understanding on the issues. In the efforts of spreading awareness on global warming and climate change, Peka Indonesia collaborating with IISES and TMII conducted one day seminar on global warming and climate change.  The seminar was conducted on January 22nd 2007 in Indonesian Miniature Garden, Jakarta with seminar theme Conservation of Flora and Fauna in the middle of changing climate and global warming The aim of this one day seminar is to spread out informations on global warming and climate change to the public especially for the staffs of Indonesian Miniature Garden. Participants will received informations on the effect of global warming to the existence of biodiversity, how we can contribute to minimize carbon emission, and how we can actively involve in the conservation of our nature environment. Thus we can minimize the effects of global warming. On this one day seminar, we invited Dr. Sony Keraf (former minister of environment) as a key note speaker. Dr Keraf gave presentation on the science of global warming and climate change and efforts initiate by countries in the world to adapt to climate change.&amp;nbsp; We also invited 5 other speaker to give prensentation on this seminar, they are, Dr. Suryo Wiyon (Department of Agriculture, IPB), Kuswandono (Gede Pangrango National Park), Dr. Rosicon Ubaidilah (Indonesian Institute of Science), and Arif (Pelangi Foundation). These five speaker gave presentations on the topic of global warming and its effect to the earth environment, effect of global warming to flora and fauna, socializing the result of UNFCCC Bali 2007, and opportunity for public involvement to reduce the effect of global warming. The seminar was attended by 150 participant, mostly from staffs of Indonesian Miniature Garden and several from public in general. We sees that forum-forum seminar like this are still needed in order to spread out the information on global warming and climate change. We envision that through good understanding, the public will increase their awareness toward global warming and will initiate an action to contribute on reducing carbon emission, thus minimalizing the hazardous effects of global warming and climate change.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/conservation-of-flora-and-fauna-in-the-middle-of-global-warming-and-changing-climate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
