Politik, Serangga, dan Pertanian
Oleh Bandung Sahari
Politik dan serangga memang dua istilah yang terlihat begitu jauh, bahkan terkesan tidak berkaitan sama sekali. Namun, keduanya memiliki dampak yang begitu besar terhadap wajah pertanian di masa lalu, sekarang, dan masa depan. Tulisan ini akan memaparkan cara berpikir yang sangat logis untuk menjelaskan hubungan dari ketiga istilah tersebut.
Politik dan Pangan Nasional
Manuver-manuver politik yang dimainkan untuk melicinkan jalan para calon presiden dalam menaiki tahta kepemimpinan negeri ini pastinya akan menghasilkan suatu sistem pemerintahan masa depan yang mungkin berbeda dari sebelumnya. Diantara janji-janji politik yang ditawarkan, kecukupan pangan rakyat nyaris selalu berada didalamnya. Kecukupan pangan berarti bagaimana pertanian dibangun untuk menghasilkan bahan pangan bagi lebih dari 230 juta penduduk Indonesia. Konsekuensinya, siapapun yang bakal menjadi presiden dan kabinet pendukungnya, pangan tetap merupakan pekerjaan rumah yang seakan tidak pernah selesai.
Pertanian masa lalu, sekarang, dan masa depan
Selama bertahun-tahun pertanian seringkali diperlakukan sebagai mesin produksi pangan yang tiada henti. Pencanangan swasembada pangan di era tahun 1980- an, dan mencapai puncaknya di tahun 1984, seperti sebuah simbol supremasi keberhasilan pemerintahan orde lama dalam menaklukkan masalah pangan nasional. Tetapi benarkah ini suatu keberhasilan?. Tentu sangat tergantung dari kacamata yang kita gunakan. Yang pasti adalah pendekatan intensifikasi pertanian yang diterapkan tidaklah gratis, harga yang harus dibayar mungkin baru dirasakan sekarang. Pertanian intensif seringkali dikaitkan dengan pestisida dan pupuk kimia sintetis. Berbagai bahan kimia pupuk sintetik hingga pestisida diaplikasikan di agroekosistem. Alhasil, hasil bumi yang kemudian dikonsumsi mengandung racun kimia yang sangat tidak baik untuk kesehatan, aplikasi bahan kimia sendiri selain mencemari ekosistem, juga ditengarai menjadi salah satu penghasil emisi gas rumah kaca. Sadar akan hal ini, program pengendalian hama terpadu (PHT) ditumbuh-kembangkan, dan disebarluaskan sebagai suatu paradigma baru dalam membangun pertanian. Pertanian tidak lagi dianggap sebagai suatu mesin, tetapi merupakan ekosistem yang didalamnya berlangsung proses-proses ekologi penting dalam produksi pertanian. Tetapi apakah ini kemudian mengubah wajah pertanian di Indonesia????. Tidak jarang, tanpa malu-malu terong, tomat, cabai berbedak pestisida dipertontonkan di lahan pertanian yang sudah siap panen. Ikan-ikan kecil bergelimpungan di sawah yang luas karena tidak tahan dengan racun pestisida yang diaplikasikan. Lalu segala daya upaya ini, apakah kemudian membuat produksi pertanian mencukupi??. Bagaimanakah wajah pertanian kita di masa depan??, dan bagaimana pemerintahan baru bisa menjawab tantangan ini?, akankan permasalah ini masuk dalam daftar prioritas?, atau justru tidak dianggap sebagai suatu masalah yang penting?.
Serangga, produktivitas tanaman, dan ketahanan pangan
Serangga selalu dituding sebagai biangkerok yang membatasi produksi pertanian, sehingga berbagai cara dilakukan agar serangga tidak lagi ada di lahan. Padahal, dalam agroekosistem, sangat banyak jenis dan jumlah serangga yang berperan sebagai predator dan parasitoid (serangga yang larvanya hidup dan berkembang pada serangga lain) yang berfungsi mengendalikan hama untuk mengamankan produksi pertanian di lapangan. Sebenarnya keberadaan serangga-serangga ini justru dapat menurunkan biaya produksi karena petani tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk pestisida. Selain itu, ekosistem dan produk yang dihasilkan menjadi lebih sehat. Tetapi keberadaan serangga-serangga ini seringkali “dikelirukan” dan “dikonotasikan” sebagai hama karena kurangnya pengetahuan terhadap jenis-jenis serangga mana yang menguntungkan dan yang merugikan.
Dalam kaitan dengan produksi, maksimalisasi potensi tanaman lebih sering dikaitkan dengan bagaimana budidaya tanaman dioptimalkan. Keberadaan serangga seringkali dikaitkan dengan turunnya produksi, tetapi tidak sebaliknya. Faktanya, sebagian besar tanaman di dunia sangat tergantung pada kerja serangga penyerbuk untuk menghasilkan produk buah-buahan, dan biji-bijian (Cunningham et al. 2002; Losey & Vaughan 2006). Tetapi ini acapkali dilupakan karena jumlah serangga banyak dan citranya yang tidak begitu baik di mata masyarakat. Bisakah dibayangkan jika pestisida ini menghilangkan serangga penyerbuk dari ekosistem, apakah kemudian kita masih tersenyum ketika tanaman tidak lagi mampu menghasilkan buah yang cukup dengan kualitas yang baik?. Walaupun sebagian tanaman mampu melakukan penyerbukan sendiri atau dibantu oleh angin, tetapi peranan serangga sangatlah vital. Ini bisa dibuktikan dari berbagai hasil penelitian pada cabai, kedelai, strowberi, kakao, apel, kopi, semangka dll. Intensifikasi pertanian, alihfungsi lahan, monokulturisasi dan pestisida menyebabkan menurunnya produksi banyak tanaman karena hilangnya spesies dan menurunnya populasi serangga penyerbuk di ekosistem. Beberapa peneliti yang melakukan investigasi pada tanaman kakao dan kopi di Sulawesi (Klein et al 2002; 2003a,b; Olschewski et al 2006), menunjukkan bahwa alih fungsi lahan menyebabkan menurunnya kekayaan jenis dan kelimpahan serangga polinator, sehingga jumlah buah yang dihasilkan menurun. Alhasil, keuntungan yang didapatkan petani juga berkurang. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan produksi, beberapa negara seperti Australia (Cunningham et al 2002) telah mengimpor jasa lebah eksotik Apis melifera untuk menyerbuki berbagai jenis tanaman. Apa artinya ini?. jika wajah pertanian Indonesia masih seperti ini, ketahanan pangan nasional akan semakin rentan. Apakah kemudian kita baru akan terhenyak ketika malapetaka datang?, apakah politik mampu menerawang hingga pada tataran ini?, nasib serangga dan agroekosistem masa depan sangatlah tergantung dari pertarungan politik saat ini, dan bagaimana kabinet baru mampu melihat aspek ini untuk dipertimbangkan ataukah tetap berada di luar daftar utama.
Keputusan Politik dan Arah Pembangunan: Implikasinya Terhadap Jasa dan Layanan (Services) Serangga.
Siapapun calon presiden yang memenangkan pemilu, yang pasti akan menyusun formasi kabinet pendukungnya. Ketika koalisi harus dibangun, apakah “distribusi kue pemerintahan” menjadi pertimbangan utama dalam mendudukkan sang calon pemimpin sektor?, atau justru kecakapan profesional yang lebih diperhatikan tanpa memandang dari komunitas mana berasal?. Yang pasti adalah, menteri terpilih akan menentukan arah pembangunan pertanian dan dimana titik beratnya. Jika formasi masih sama dengan pemerintahan sebelumnya, maka agroekosistem sangat tergantung pada kebijakan pada sektor pertanian, kehutanan, dan Lingkungan hidup dan bagaimana sektor-sektor ini akan membuat prioritas pembangunan. Apakah peran penting serangga dalam memberikan layanan dan jasa terhadap kesejahteraan manusia melalui fungsinya sebagai penyerbuk dan penjaga produksi tanaman cukup penting?, atau justru luput dari perhatian seperti pada tahun-tahun sebelumnya?.
Politik, pertanian, dan serangga adalah satu paket yang merupakan sebuah siklus yang saling mempengaruhi.