Pengetahuan etnobotani bagi Kelestarian Lingkungan
Istilah etnobotani dipahami sebagai suatu bidang ilmu yang mempelajari interaksi masyarakat dengan lingkungan hidupnya, khususnya tumbuhan. Tumbuhan memberikan manfaat yang begitu besar bagi manusia melalui berbagai khasiat yang dimilikinya, mulai dari kandungan nutrisi, hingga kedahsyatan metabolit sekunder yang dihasilkan baik untuk kesehatan (obat-obatan), pakan ternak, dan pestisda botani. Pengetahuan manusia tentang manfaat tanaman ini sebenarnya telah dimulai sejak berabad-abad lalu dan diturunkan kepada anak cucu hingga sekarang. Bahkan bidang kedokteran saat ini juga telah banyak mengembangkan obat-obatan yang berasal dari senyawa yang dihasilkan tanaman.
Namun demikian, dari sekian banyak manfaat tanaman, baru sedikit yang diketahui dan dimanfaatkan luas oleh masyarakat. Beberapa yang sangat terkenal diantaranya obat-obatan tradisional masyarakat Jawa Klasik, yang kemudian banyak dikomersialkan menjadi berbagai jenis obat herbal. Sebenarnya pengetahuan tentang pemanfaatan tanaman yang masih belum banyak digali adalah kearifan tradisional masyarakat asli daerah tertentu yang tidak banyak berinteraksi dengan modernisasi. Pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan ini, biasanya diketahui secara turun temurun dan bersifat sebagai pengetahuan lokal sehingga menjadi ciri dari suatu masyarakat tradisional. Seiring dengan percepatan modernisasi yang telah menyentuh daerah masyarakat tradisional, sangat penting untuk mendokumentasikan pengetahuan lokal ini agar tetap lestari dan tidak hilang seiring dengan laju gaya hidup kota yang sedikit banyak telah mempengaruhi generasi muda dari masyarakat tradisional.
Bertolak dari alasan inilah, Yayasan Peka Indonesia melakukan pengamatan dan penggalian informasi di desa Sirnarasa, Sukabumi Jawa Barat. Sirnarasa adalah desa yang lokasinya di kelilingi Taman Nasional Halimun Salak, dimana sebagian besar masyarakatnya memanfaatkan keberadaaan hutan di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan hidup termasuk obat-obatan.
Lokasinya desa yang berdekatan dengan masyarakat adat Kasepuhan, menjadikan masyarakat desa Sirnarasa dapat dikelompokkan sebagai masyarakat adat dan masyarakat non adat yang sudah menerima modernisasi. Termasuk masyarakat adat adalah masyarakat yang masih memegang dan menjalankan aturan-aturan yang berlaku di Kasepuhan.
Salah satu modernisasi yang sudah masuk ke wilayah ini adalah obat-obatan bermerek produksi pabrik. Kemudahan dalam mendapatkan dan mengkonsumsi produk obat ini ternyata memberi dampak yang menjadi kekhawatiran bersama akan pengetahuan etnobotani. Berdasarkan survei yang dilakukan, 75% anak usia sekolah dasar tidak lagi mengenal tumbuhan yang dapat dijadikan obat. Ketidaktahuan ini memicu hilangnya berbagai tumbuhan bermanfaat obat, yang sebelumnya banyak tumbuh di sekitar pemukiman.
Selain itu, masuknya peralatan rumah tangga yang terbuat dari plastik juga menjadi salah satu alasan ditinggalkannya peralatan rumah tangga yang terbuat dari kayu seperti gayung awi, dulang nasi (tempat nasi) ataupun lodong (tempat air). Peminat yang terus berkurang membuat pengrajin tidak bersemangat mengembangkan produknya. Sehingga permintaan dan kebutuhan menjaga bahan baku yang berasal dari tumbuhan pun perlahan ditinggalkan.
Pengetahuan adalah kunci utama agar Etnobotani dijalankan dengan kearifan dalam meningkatkan manfaat tumbuhan dan menjaga kelestariannya. Tergerak untuk mendokumentasikan pengetahuan yang hampir hilang, Peka Indonesia melakukan dokumentasi Etnobotani. Bersama masyarakat desa sirnarasa, melalui siswa sekolah dasar, guru, mak beurang (dukun melahirkan) dan orang tua membuat dokumentasi tertulis pemanfaatan etnobotani untuk obat-obatan dan peralatan rumah tangga. Selain itu juga dibuat apotik hidup dan herbarium sebagai wahana pelestarian plasma nutfah tanaman obat bagi masyarakat. Tidak ketinggalan kunjungan silang ke museum Etnobotani bagi guru sekolah dasar, untuk menambah pengetahuan mereka.
Hasilnya, ditemukan 64 jenis obat yang dahulu dikonsumsi masyarakat sirnarasa. Namun, hanya 34 yang dapat diidentifikasi dan didokumentasikan. Mulai dikembangkannya apotik hidup dan siswa sekolah dasar mampu membuat herbarium. Pengetahuan yang telah terdokumentasi diharapkan dapat dijaga dan diterapkan dalam kehidupan, sehingga kedepannya dapat dikembangkan lagi pengetahuan dan pelestarian tumbuhan yang bermanfaat bagi manusia.(nw)
Tulisan ini bersumber dari Seminar Kecil Peka Indonesia 25 Maret 2009 : Penggalian Potensi Etnobotani Halimun (Studi Kasus : Masyarakat Sirnarasa Sukabumi) yang disampaikan oleh Mega Ika Cahyani.