Dede Yusuf Tebar Ikan Kampanyekan Balad Kuring
BOGOR – Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf terus mengkampanyekan Balad Kuring sebagai gerakan prolingkungan di Jawa Barat. Hal tersebut diungkapkannya saat menebar ribuan bibit ikan di Danau Situ Gede di Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Senin (25/5).
Dede Yusuf menjelaskan, Balad Kuring, yang dalam bahasa Indonesia bermakna sahabat atau teman saya atau kita, merupakan program penyelamatan lingkungan di seluruh Jawa Barat, yang bukan program pemerintah atau kepemerintahan. Balad Kuring lahir dari forum masyarakat pemerhati dan pencinta lingkungan, khususnya mayarakat dan lingkungan Jawa Barat.
“Balad Kuring adalah forum bersama untuk kita semua sadar dan peduli pada lingkungan. Konsepnya seperti organisasi Green Peace-lah, tapi ini ala Jawa Barat,” kata Dede. Pada kesempatan itu, ia bersama Wali Kota Bogor Diani Budiarto menebar bibit ikan nila sebanyak 100 ribu di Danau Situ Gede.
Penebaran ikan di Danau Situ Gede adalah perkenalan awal dari program Balad Kuring, yang secara resmi akan diluncurkan 30 Mei mendatang. Dede berharap, forum ini nantinya benar-benar menjadi milik masyarakat dan bergulir menjadi suatu gerakan kongkret menyelamatkan lingkungan dari pemanasan bumi.
Langkah nyata itu berupa tindakan masyarakat secara sadar dan tulus, untuk misalnya menjadikan sebuah kawasan lingkungan tinggal/hidupnya menjadi bersih tanpa sampah, tanpa polusi udara, melakukan reboisasi, serta memelihara dan memperluas ruang terbuka hijau.
“Nanti di 26 kota/kabupaten di Jawa Barat harus ada kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan tanpa sampah, yang berlaku selamanya,” kata Dede Yusuf.
Adapun Wali Kota Bogor Diani Budiarto memastikan selama kepemimpinannya telah dan terus mengeluarkan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kulitas lingkungan hidup Kota Bogor. Ia mengatakan pemerintahanya terus berupaya menjadikan warga dan Kota Bogor propeningkatan kulitas lingkungan hidup.
“Kami sudah mulai memproteksi penggunaan lahan dengan mengurangi izin pembangunan perumahan. Kami tidak ingin, lahan terbuka Kota Bogor yang sudah sempit, semakin sempit,” katanya.
Pemko Bogor pun sedang mempertimbangkan dengan serius untuk memberi instalasi atau alat pemusnah sampah, bagi wilayah-wilayah y ang tidak terjangkau aramada pengangkut sampah. Wilayah di kawasan Bendung Katulampa adalah salah satu wilayah di Kota Bogor yang tidak terjangkau armada truk sampah sehingga banyak wargany a membuang sampah ke Sungai Ciliwung.
“Kami akan memberi bantuan alat pemusnah sampah agar masyarakat tidak buang sampah sembarangan,” katanya.
Sedangkan mengenai Danau Situ Gede, Diani memastikan, danau terbesar di Kota Bogor tersebut tidak akan menimbulkan musibah sebagaimana Situ Gintung di Tangerang. Sebab, Danau Situ Gede merupakan danau alam, yang terjadi karena ada cekungan.
Luas danau itu saat ini sekitar empat hektar, dari semula tujuh hektar. Penyempitan danau tersebut akibat pendangkalan sekeliling danau, yang kemudian lahan itu diserobot menjadi tempat hunian. Itu sebabnya, ketika musim hujan, air danau meluap, membanjiri lahan-lahan di sekitarnya.