Sekelumit Cerita Katak Pohon
Keanekaragaman dan perilaku katak pohon di Jawa sangat menarik untuk diamati. Berdasarkan penelusuran data Global Amphibian Assessment, Indonesia diperkirakan memiliki 102 species katak pohon .Sejarah hidup katak pohon ini dipaparkan dengan apik oleh Dr. Mirza D Kusrini di Seminar Rutin Yayasan Peka Indonesia, Kamis 14 Mei 2009 Katak pohon adalah katak yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di pohon (arboreal). Katak jenis ini umumnya mempunyai disk yang membesar pada bagian ujung jari. Dengan ini, katak mampu menempel erat di pohon, daun ataupun di tubuh pasangannya dalam proses kawin. Katak pohon hijau (Rhacophorus Reindarwardtii) paling populer untuk dijadikan peliharaan bahkan sampai di ekspor ke luar negeri.
Beberapa jenis katak pohon yang ditemukan di Pulau Jawa dalam rangkaian penelitian yang dilakukan oleh Dr.Ir.Mirza D Kusrini dan team antara lain Rhacoporus javanus, Rhacophorus reindarwardtii, Philautus aurifasciatus, Philautus vittiger, Polypedates leucomystax, Polypedates otilopus dan Nyctixalus margaritifer.
Katak pohon memiliki perilaku yang unik saat kawin. Sang jantan yang lebih mudah dijumpai di alam, mencoba menarik perhatian betina melalui komunikasi akustik. Jantan yang memiliki kantong suara dan berukuran lebih kecil juga menarik perhatian betina melalui komunikasi visual. Bila betina telah menentukan pilihannya, maka jantan yang terpilih akan naik di punggung betina, bersama-sama mencari tempat yang cocok dan aman untuk meletakkan telur-telur. Biasanya telur-telur diletakkan di daun tanaman atau serasah yang dekat dengan genangan atau aliran air. Genangan air akan menjadi tempat perkembangan berudu. Beberapa predator bagi telur katak ataupun berudu antara lain ulat, semut, ikan kecil, dan serangga air seperti Laccotrephes tristis.
Katak pohon mengalami metamorfosis mulai dari telur, berudu, anakan, berkembang menjadi katak dewasa. Kecuali untuk kelompok Philautus yang tidak melalui proses berudu. Terkait dengan kebutuhan genangan air bagi katak, dalam penelitian yang dilakukan bekerjasama dengan Peka Indonesia dan disupport oleh Chevron, ditemukan bahwa ada 6 jenis katak pohon yang hidup di habitat sekitar areal konsensi Chevron Geothermal Indonesia – Taman Nasional Gunung Halimun Salak dengan penyebaran terbanyak berada di daerah genangan (ponds). Jumlah telur terbanyak disekitar ponds ditemukan pada bulan Mei (data penelitian april – september 2008).
Jadi untuk perkembangbiakkannya Katak Pohon membutuhkan habitat dengan genangan dan aliran air yang baik dan juga untuk perkembangannya saat dewasa Katak Pohon membutuhkan kondisi lingkungan (pohon dan tanaman) yang mendukung. Air dan tanaman menjadi faktor penting dalam kehidupan Katak Pohon.
Air diduga menjadi salah satu media penularan penyakit pada katak yaitu Chytridiomycosis. Chytridiomycosis adalah penyakit pada amphibi yang disebabkan oleh jamur Batrachochytrium dendrobatidis (Bd). Untuk di Jawa, dalam satu penelitian yang bekerjama dengan James Cook University Australia, empat jenis katak di Taman Nasional Gunung Pangrango seperti Rhacoporus javanus, Rana chalconota, Leptobrateum haseltii dan Limnonectes microdiscus yang sampelnya diambil di habitat akuatik positif mengidap Bd.
Terancamnya habitat katak di pulau Jawa baik oleh permukiman manusia ataupun lingkungan yang tidak sehat menjadi tanggungjawab kita semua. Semoga dapat dicegah terancamnya keberadaan jenis katak pohon seperti yang terjadi pada Philautus jacobsoni yang tidak pernah lagi ditemukan di daerah Ungaran dan Nictyxalus margaritifier yang sulit ditemukan di Jawa Barat, bahkan hal ini tidak mustahil terjadi pada katak-katak lain yang belum dideskripsikan.(nw)
Sumber : Seminar Kecil Peka Indonesia, Sekelumit tentang katak Pohon (Mirza D Kusrini) 14 Mei 2009


Nice picture !