<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yayasan Peduli Konservasi Alam Indonesia - PEKA-INDONESIA.ORG &#187; research</title>
	<atom:link href="http://www.peka-indonesia.org/category/research/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.peka-indonesia.org</link>
	<description>Konservasi, Yayasan, Foundation, Indonesia, Indonesia Foundation, Indonesia Conservation Foundation, Konservasi Hutan, Konservasi Alam Indonesia, Pendidikan Lingkungan, Pengembangan Masyarakat, Serangga, Penelitian Serangga, Insect Conservation, Insect Research, PEKA Indonesia Foundation, Peduli Konservasi Alam Indonesia Foundation</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Nov 2009 14:21:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Spesies Asing Invasif: Akankah Mengubah Wajah Bumi Kita?</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/research/spesies-asing-invasif-akankah-mengubah-wajah-bumi-kita/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/research/spesies-asing-invasif-akankah-mengubah-wajah-bumi-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 16:17:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[research]]></category>
		<category><![CDATA[Biodiversity]]></category>
		<category><![CDATA[insect]]></category>
		<category><![CDATA[island]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.peka-indonesia.org/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Mungkinkah wajah bumi kita akan berubah karena penyebaran spesies invasif yang begitu cepat dari tempat asalnya ke ke berbagai belahan dunia?.  Pertanyaan ini muncul dalam Konferensi Internasional “Biodiversity Crisis in Tropical Islands” yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 11-13 Juni 2007 lalu.   Para Ilmuwan dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia hadir pada konferensi ini untuk membicarakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="Eceng Gondok" src="http://img301.imageshack.us/img301/7994/encenggondokjpg.jpg" alt="" width="301" height="227" />Mungkinkah wajah bumi kita akan berubah karena penyebaran spesies invasif yang begitu cepat dari tempat asalnya ke ke berbagai belahan dunia?.  Pertanyaan ini muncul dalam Konferensi Internasional “Biodiversity Crisis in Tropical Islands” yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 11-13 Juni 2007 lalu.   Para Ilmuwan dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia hadir pada konferensi ini untuk membicarakan berbagai isu terkait dengan krisis keanekaragaman hayati di wilayah kepulauan tropis.  Salah satu isu hangat yang mengemuka adalah penyebaran spesies asing invasif dari negara asal ke berbagai penjuru dunia yang diperkirakan akan mampu mengubah lansekap permukaan bumi ini.  Perubahan ini sangat dimungkinkan karena masuknya spesies asing yang bersifat invasif ke dalam suatu wilayah yang sama sekali baru akan dapat mempengaruhi keanekaragaman dan struktur komunitas organisme lokal.  Umumnya, spesies seperti ini memiliki sifat mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan mampu berkompetisi dengan spesies lokal di habitat yang sama.  Beberapa contoh yang dapat dengan mudah dilihat adalah tumbuhan enceng gondok (Eichornia crasipes) yang merupakan tumbuhan air yang menginvasi permukaan perairan tawar di berbagai wilayah di Indonesia,  Kirinyu (Cromolaena Odorata), tumbuhan darat yang mampu menginvasi baik di dataran rendah hingga dataran tinggi, dan semut Anoplolepis gracilipes.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana Invasi Spesies terjadi dan apa dampak yang bisa ditimbulkan?</strong><br />
Dalam suatu ekosistem yang stabil tanpa adanya gangguan, beragam spesies lokal akan hidup di dalamnya dan terjadi suatu interaksi baik antar spesies ataupun spesies dengan lingkungan fisiknya sehingga tercipta suatu siklus biologi yang tidak terputus dan membentuk proses ekologi yang berkesinambungan. Jika suatu spesies asing masuk ke dalam habitat yang baru, setidaknya terdapat tiga kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, spesies baru tidak mampu beradaptasi dengan habitat baru dan akhirnya populasinya punah di habitat tersebut. Ke dua, spesies mampu beradaptasi tetapi populasinya tidak berkembang pesat, sehingga keberadaannya memperkaya komunitas lokal.  Ke tiga, spesies mampu beradaptasi dan populasinya berkembang pesat, sehingga mampu berkompetisi dengan baik dengan spesies lokal dalam segi ruang maupun makanan.  Pada situasi pertama dan ke dua, mungkin kehadiran spesies baru tidak memberikan dampak negatif terhadap ekosistem.  Tetapi pada situasi ke-tiga, hadirnya spesies baru ini memiliki potensi yang cukup besar untuk mendominasi ekosistem.  Kemampuan adaptasi yang baik dengan lingkungan, perkembangbiakan yang cepat, serta kemampuan berkompetisi dalam ruang dan makanan  yang cukup tinggi dapat membuatnya menjadi spesies dominan di wilayah yang baru. Perkembangan populasi spesies asing invasif ini akan mengubah struktur komunitas ekosistem, jaring-jaring makanan, dan pada akhirnya mempengaruhi proses-proses ekologi yang ada. Apa yang terjadi dengan spesies lokal?. Beberapa spesies lokal mungkin akan dapat bertahan, tetapi bagi spesies lokal yang memiliki relung yang sama, namun tidak mampu berkompetisi baik dari segi ruang dan makanan, maka spesies ini akan lenyap.  Beberapa spesies asing invasif, misalnya enceng gondok diketahui memiliki senyawa kimia yang dapat mengakibatkan kematian tumbuhan air yang ada di sekitarnya.  Jika proses dominansi ini terus berlanjut, maka  homogenisasi biota tidak dapat dihindarkan.   Hasil penelitian salah satu mahasiswa S3 dari IPB, membuktikan bahwa homogenisasi enceng gondok telah terjadi di berbagai wilayah perairan di Jawa Barat.  Dari penelitian tersebut diketahui bahwa keberadaan enceng gondok menghilangkan kesempatan tumbuhan air lokal untuk bertahan hidup.  Apa yang terjadi apabila spesies invasif ini memiliki daya sebar yang tinggi?.  Homogenisasi biotik akan terjadi dimana-mana, sehingga kepunahan spesies lokal tidak dapat dihindari.  Disamping itu, proses-proses ekologi yang menyangga kestabilan ekosistem akan secara drastis berubah karena hadirnya spesies baru yang dominan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana spesies-spesies tersebut menyebar?</strong><br />
Penyebaran spesies asing invasif yang begitu cepat ke berbagai penjuru dunia, telah menimbulkan kecemasan para peneliti terhadap apa yang disebut “biological replacement”, yang disertai homogenisasi biotik.  Bagaimana spesies-spesies tersebut dapat menyebar, masih menjadi perdebatan yang cukup hangat.  Pada intinya, penyebaran ini dapat terjadi baik secara aktif maupun pasif atau keduanya tergantung pada karakteristik dari spesies tersebut.  Pada organisme bersayap yang mampu terbang seperti burung, capung, dan kupu-kupu, dapat secara aktif bermigrasi dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa bantuan.  Pada organisme yang tidak bersayap, migrasi hanya bisa dilakukan secara aktif dengan berjalan, namun akan menghadapi berbagai keterbatasan, misalnya barier laut.  Pada umumnya, organisme seperti ini dapat tersebar luas karena terbawa oleh organisme yang lain. Banyak ilmuwan percaya bahwa penyebaran spesies asing invasif ini terjadi karena bantuan manusia.  Misalnya enceng gondok, tanaman ini dapat menyebar ke Indonesia dari asal daerah yang sangat jauh, Brazil, karena dibawa oleh manusia untuk digunakan sebagai tanaman hias.  Namun saat ini bisa kita lihat bahwa di berbagai daerah perairan di Indonesia dari Papua hingga Sumatera telah terinfestasi oleh enceng gondok.   Dari beberapa fakta diketahui bahwa tumbuhan darat eksotik invasif Cromolaena odorata yang banyak ditemukan di Jawa, kini dapat ditemukan di beberapa pulau di Kepulauan Seribu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa Implikasinya Bagi Indonesia sebagai Negara Kepulauan?</strong><br />
Pertanyaan kemudian yang muncul adalah apa implikasinya bagi Indonesia?.  Sebagai  negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau dalam berbagai ukuran dari yang kecil hingga besar, Indonesia menghadapi tantangan yang sangat besar.  Mengapa demikian?. Hingga saat ini, kekayaan spesies yang mendiami pulau-pulau tersebut belum banyak diketahui karena sedikitnya penelitian yang dilakukan.  Keanekaragaman spesies suatu pulau sangatlah tergantung pada ukuran pulau dan jarak pulau dari daratan utama.  Semakin kecil dan semakin jauh pulau dari daratan utama, maka kemampuan pulau untuk mendukung keanekaragaman spesies yang hidup di dalamnya sangat terbatas.  Eksistensi suatu spesies pada kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan dan berkompetisi untuk memperebutkan ruang dan makanan. Apa yang terjadi jika spesies asing invasif ini masuk dan berkembang di pulau-pulau kecil tersebut?.  Pernahkan kita membayangkan bahwa suatu pulau yang pada awalnya hidup berbagai jenis tumbuhan, kemudian berubah menjadi hanya satu atau dua tumbuhan saja yang mendominasi pulau tersebut karena masuknya tumbuhan asing invasif yang mengambil alih habitat?.  Kita akan banyak kehilangan spesies yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Jika hal ini banyak terjadi di berbagai belahan dunia, akankah wajah bumi berubah?.</p>
<p style="text-align: justify;">(<strong>Bandung Sahari</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/research/spesies-asing-invasif-akankah-mengubah-wajah-bumi-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 FAKTA ISTIMEWA: SERANGGA</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/research/10-fakta-istimewa-serangga/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/research/10-fakta-istimewa-serangga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 05:03:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nitawiyesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[research]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[

Lalat rumah dapat menemukan gula dengan menggunakan sensor di tungkai (kaki) nya.Sensor ini 10 juta kali lebih sensitif dibandingkan lidah manusia.
Pada saat mencari makanan, lebah dapat terbang sejauh 60 mil (96,5 kilometer) dalam 1 hari
 Seekor semut dapat mengangkat sesuatu dengan berat hingga 50 kali berat badannya.
Ratu dari spesies rayap tertentu dapat menghasilkan 40.000 telur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img title="lalat-rumah" src="http://img688.imageshack.us/img688/4886/lalathijau.jpg" alt="" width="230" height="292" /></p>
<ol>
<li>Lalat rumah dapat menemukan gula dengan menggunakan sensor di tungkai (kaki) nya.Sensor ini 10 juta kali lebih sensitif dibandingkan lidah manusia.</li>
<li>Pada saat mencari makanan, lebah dapat terbang sejauh 60 mil (96,5 kilometer) dalam 1 hari</li>
<li> Seekor semut dapat mengangkat sesuatu dengan berat hingga 50 kali berat badannya.</li>
<li>Ratu dari spesies rayap tertentu dapat menghasilkan 40.000 telur dalam 1 hari.</li>
<li>Lebah madu melakukan 10 juta kali perjalanan untuk mengumpulkan cukup nektar untuk memproduksi 1 pound (0,45 kilogram) madu.</li>
<li>Serangga sudah berada di bumi sejak 350 juta tahun yang lalu.</li>
<li>Rasa gatal akibat gigitan nyamuk dapat dikurangi dengan menggosok bawang putih di tempat gigitan.</li>
<li>Nyamuk lebih tertarik dengan warna biru dibandingkan dengan warna lainnya.</li>
<li> Kupu-kupu hanya bisa melihat warna merah, hijau, dan kuning</li>
<li> 1 sarang lebah dapat berisi 40-45 ribu lebah!</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/research/10-fakta-istimewa-serangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Politik, Serangga, dan Pertanian</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/research/politik-serangga-dan-pertanian/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/research/politik-serangga-dan-pertanian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 08:39:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[research]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=402</guid>
		<description><![CDATA[

Oleh Bandung Sahari
Politik dan serangga  memang dua istilah yang terlihat begitu jauh, bahkan terkesan tidak  berkaitan sama sekali. Namun, keduanya memiliki dampak yang begitu besar  terhadap wajah pertanian di masa lalu, sekarang, dan masa depan. Tulisan  ini akan memaparkan cara berpikir yang sangat logis untuk menjelaskan  hubungan dari ketiga istilah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="margin: 1ex; text-align: justify;">
<div>
<p><span style="font-family: Trebuchet MS; color: #333333; font-size: small;">Oleh Bandung Sahari</span></p>
<p><span style="font-family: Trebuchet MS; color: #333333; font-size: small;">Politik dan serangga  memang dua istilah yang terlihat begitu jauh, bahkan terkesan tidak  berkaitan sama sekali. Namun, keduanya memiliki dampak yang begitu besar  terhadap wajah pertanian di masa lalu, sekarang, dan masa depan. Tulisan  ini akan memaparkan cara berpikir yang sangat logis untuk menjelaskan  hubungan dari ketiga istilah tersebut. </span><br />
<span style="font-family: Trebuchet MS; color: #333333; font-size: small;"><strong>Politik dan  Pangan Nasional</strong></span></p>
<p><span style="font-family: Trebuchet MS; color: #333333; font-size: small;">Manuver-manuver  politik yang dimainkan untuk melicinkan jalan para calon presiden dalam  menaiki tahta kepemimpinan negeri ini pastinya akan menghasilkan suatu  sistem pemerintahan masa depan yang mungkin berbeda dari sebelumnya.  Diantara janji-janji politik yang ditawarkan, kecukupan pangan rakyat  nyaris selalu berada didalamnya. Kecukupan pangan berarti bagaimana  pertanian dibangun untuk menghasilkan bahan pangan bagi lebih dari 230  juta penduduk Indonesia. Konsekuensinya, siapapun yang bakal menjadi  presiden dan kabinet pendukungnya, pangan tetap merupakan pekerjaan  rumah yang seakan tidak pernah selesai. </span></p>
<p><span style="font-family: Trebuchet MS; color: #333333; font-size: small;"><strong>Pertanian masa  lalu, sekarang, dan masa depan</strong></span></p>
<p><span style="font-family: Trebuchet MS; color: #333333; font-size: small;">Selama bertahun-tahun  pertanian seringkali diperlakukan sebagai mesin produksi pangan yang  tiada henti. Pencanangan swasembada pangan di era tahun 1980- an, dan  mencapai puncaknya di tahun 1984, seperti sebuah simbol supremasi keberhasilan  pemerintahan orde lama dalam menaklukkan masalah pangan nasional. Tetapi  benarkah ini suatu keberhasilan?. Tentu sangat tergantung dari kacamata  yang kita gunakan. Yang pasti adalah pendekatan intensifikasi pertanian  yang diterapkan tidaklah gratis, harga yang harus dibayar mungkin baru  dirasakan sekarang. Pertanian intensif seringkali dikaitkan dengan pestisida  dan pupuk kimia sintetis. Berbagai bahan kimia pupuk sintetik hingga  pestisida diaplikasikan di agroekosistem. Alhasil, hasil bumi yang kemudian  dikonsumsi mengandung racun kimia yang sangat tidak baik untuk kesehatan,  aplikasi bahan kimia sendiri selain mencemari ekosistem, juga ditengarai  menjadi salah satu penghasil emisi gas rumah kaca. Sadar akan hal ini,  program pengendalian hama terpadu (PHT) ditumbuh-kembangkan, dan disebarluaskan  sebagai suatu paradigma baru dalam membangun pertanian. Pertanian tidak  lagi dianggap sebagai suatu mesin, tetapi merupakan ekosistem yang didalamnya  berlangsung proses-proses ekologi penting dalam produksi pertanian.  Tetapi apakah ini kemudian mengubah wajah pertanian di Indonesia????.  Tidak jarang, tanpa malu-malu terong, tomat, cabai berbedak pestisida  dipertontonkan di lahan pertanian yang sudah siap panen. Ikan-ikan kecil  bergelimpungan di sawah yang luas karena tidak tahan dengan racun pestisida  yang diaplikasikan. Lalu segala daya upaya ini, apakah kemudian membuat  produksi pertanian mencukupi??. Bagaimanakah wajah pertanian kita di  masa depan??, dan bagaimana pemerintahan baru bisa menjawab tantangan  ini?, akankan permasalah ini masuk dalam daftar prioritas?, atau justru  tidak dianggap sebagai suatu masalah yang penting?. </span></p>
<p><span style="font-family: Trebuchet MS; color: #333333; font-size: small;"><strong>Serangga, produktivitas  tanaman, dan ketahanan pangan</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Trebuchet MS; color: #333333; font-size: small;">Serangga  selalu dituding sebagai biangkerok yang membatasi produksi pertanian,  sehingga berbagai cara dilakukan agar serangga tidak lagi ada di lahan.   Padahal, dalam agroekosistem, sangat banyak jenis dan jumlah serangga  yang berperan sebagai predator dan parasitoid (serangga yang larvanya  hidup dan berkembang pada serangga lain) yang berfungsi mengendalikan  hama untuk mengamankan produksi pertanian di lapangan. Sebenarnya keberadaan  serangga-serangga ini justru dapat menurunkan biaya produksi karena  petani tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk pestisida.  Selain  itu, ekosistem dan produk yang dihasilkan menjadi lebih sehat.   Tetapi keberadaan serangga-serangga ini seringkali “dikelirukan”  dan “dikonotasikan” sebagai hama karena kurangnya pengetahuan terhadap  jenis-jenis serangga mana yang menguntungkan dan yang merugikan. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Trebuchet MS; color: #333333; font-size: small;">Dalam  kaitan dengan produksi, maksimalisasi potensi tanaman lebih sering dikaitkan  dengan bagaimana budidaya tanaman dioptimalkan. Keberadaan serangga  seringkali dikaitkan dengan turunnya produksi, tetapi tidak sebaliknya.   Faktanya, sebagian besar tanaman di dunia sangat tergantung pada kerja  serangga penyerbuk untuk menghasilkan produk buah-buahan, dan biji-bijian  (Cunningham et al. 2002; Losey  &amp; Vaughan 2006).  Tetapi ini  acapkali dilupakan karena jumlah serangga banyak dan citranya yang tidak  begitu baik di mata masyarakat. Bisakah dibayangkan jika pestisida ini  menghilangkan serangga penyerbuk dari ekosistem, apakah kemudian kita  masih tersenyum ketika tanaman tidak lagi mampu menghasilkan buah yang  cukup dengan kualitas yang baik?. Walaupun sebagian tanaman mampu melakukan  penyerbukan sendiri atau dibantu oleh angin, tetapi peranan serangga  sangatlah vital.  Ini bisa dibuktikan dari berbagai hasil penelitian  pada cabai, kedelai, strowberi, kakao, apel, kopi, semangka dll.  Intensifikasi  pertanian, alihfungsi lahan, monokulturisasi dan pestisida menyebabkan  menurunnya produksi banyak tanaman karena hilangnya spesies dan menurunnya  populasi serangga penyerbuk di ekosistem. Beberapa peneliti yang melakukan  investigasi pada tanaman kakao dan kopi di Sulawesi (Klein et al 2002;  2003a,b; Olschewski et al 2006), menunjukkan bahwa alih fungsi lahan  menyebabkan menurunnya kekayaan jenis dan kelimpahan serangga polinator,  sehingga jumlah buah  yang dihasilkan menurun. Alhasil, keuntungan  yang didapatkan petani juga berkurang.  Bahkan untuk mencukupi kebutuhan  produksi, beberapa negara seperti Australia (Cunningham et al 2002)  telah mengimpor jasa lebah eksotik <em>Apis melifera</em> untuk menyerbuki  berbagai jenis tanaman. Apa artinya ini?. jika wajah pertanian Indonesia  masih seperti ini, ketahanan pangan nasional akan semakin rentan. Apakah  kemudian kita baru akan terhenyak ketika malapetaka datang?, apakah  politik mampu menerawang hingga pada tataran ini?, nasib serangga dan  agroekosistem masa depan sangatlah tergantung dari pertarungan politik  saat ini, dan bagaimana kabinet baru mampu melihat aspek ini untuk dipertimbangkan  ataukah tetap berada di luar daftar utama. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Trebuchet MS; color: #333333; font-size: small;">Keputusan  Politik dan  Arah Pembangunan: Implikasinya Terhadap Jasa dan Layanan   (Services) Serangga. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Trebuchet MS; color: #333333; font-size: small;">Siapapun  calon presiden yang memenangkan pemilu, yang pasti akan menyusun formasi  kabinet pendukungnya. Ketika koalisi harus dibangun, apakah “distribusi  kue pemerintahan” menjadi pertimbangan utama dalam mendudukkan sang  calon pemimpin sektor?, atau justru kecakapan profesional yang lebih  diperhatikan tanpa memandang dari komunitas mana berasal?.  Yang  pasti adalah, menteri terpilih akan menentukan arah pembangunan pertanian  dan dimana titik beratnya.  Jika formasi masih sama dengan pemerintahan  sebelumnya, maka agroekosistem sangat tergantung pada kebijakan pada  sektor pertanian, kehutanan, dan Lingkungan hidup dan bagaimana sektor-sektor  ini akan membuat prioritas pembangunan.  Apakah peran penting serangga  dalam memberikan layanan dan jasa terhadap kesejahteraan manusia melalui  fungsinya sebagai penyerbuk dan penjaga produksi tanaman  cukup  penting?, atau justru luput dari perhatian seperti pada tahun-tahun  sebelumnya?. </span></p>
<p><span style="font-family: Trebuchet MS; color: #333333; font-size: small;">Politik, pertanian,  dan serangga adalah satu paket yang merupakan sebuah siklus yang saling  mempengaruhi. </span></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/research/politik-serangga-dan-pertanian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekelumit Cerita Katak Pohon</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/conservation/sekelumit-cerita-katak-pohon/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/conservation/sekelumit-cerita-katak-pohon/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 03:15:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[conservation]]></category>
		<category><![CDATA[research]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[Keanekaragaman dan perilaku katak pohon di Jawa sangat menarik untuk diamati. Berdasarkan penelusuran data Global Amphibian Assessment, Indonesia diperkirakan memiliki 102 species katak pohon .Sejarah hidup katak pohon ini dipaparkan dengan apik oleh Dr. Mirza D Kusrini di Seminar Rutin Yayasan Peka Indonesia,  Kamis 14 Mei 2009 Katak pohon adalah katak yang menghabiskan sebagian besar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://img23.imageshack.us/img23/7189/rhacophorusreinwardtii.jpg"  rel="lightbox"><img class="alignleft" src="http://img23.imageshack.us/img23/7189/rhacophorusreinwardtii.jpg" alt="" width="289" height="442" /></a>Keanekaragaman dan perilaku katak pohon di Jawa sangat menarik untuk diamati. Berdasarkan penelusuran data Global Amphibian Assessment, Indonesia diperkirakan memiliki 102 species katak pohon .Sejarah hidup katak pohon ini dipaparkan dengan apik oleh Dr. Mirza D Kusrini di Seminar Rutin Yayasan Peka Indonesia,  Kamis 14 Mei 2009 Katak pohon adalah katak yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di pohon (arboreal). Katak jenis ini umumnya mempunyai disk yang membesar pada bagian ujung jari. Dengan ini, katak mampu menempel erat di pohon, daun ataupun di tubuh pasangannya dalam proses kawin. Katak pohon hijau (Rhacophorus Reindarwardtii) paling populer untuk dijadikan peliharaan bahkan sampai di ekspor ke luar negeri.</p>
<p>Beberapa jenis katak pohon yang ditemukan di Pulau Jawa dalam rangkaian penelitian yang dilakukan oleh Dr.Ir.Mirza D Kusrini dan team antara lain Rhacoporus javanus, Rhacophorus reindarwardtii, Philautus aurifasciatus, Philautus vittiger, Polypedates leucomystax, Polypedates otilopus dan Nyctixalus margaritifer.</p>
<p>Katak pohon memiliki perilaku yang unik saat kawin. Sang jantan yang  lebih mudah dijumpai  di alam, mencoba menarik perhatian betina melalui komunikasi akustik. Jantan yang memiliki kantong suara dan berukuran lebih kecil juga menarik perhatian betina melalui komunikasi visual. Bila betina telah menentukan pilihannya, maka jantan yang terpilih akan naik di punggung betina, bersama-sama mencari tempat yang cocok dan aman untuk meletakkan telur-telur. Biasanya telur-telur diletakkan di daun tanaman atau serasah yang dekat dengan genangan atau aliran air. Genangan air akan menjadi tempat perkembangan berudu. Beberapa predator bagi telur katak ataupun berudu antara lain ulat, semut, ikan kecil, dan serangga air seperti Laccotrephes tristis.</p>
<p>Katak pohon mengalami metamorfosis mulai dari telur, berudu, anakan, berkembang menjadi katak dewasa. Kecuali untuk kelompok Philautus yang  tidak melalui proses berudu. Terkait dengan kebutuhan genangan air bagi katak, dalam penelitian yang dilakukan bekerjasama dengan Peka Indonesia dan disupport oleh Chevron, ditemukan bahwa ada 6 jenis katak pohon yang hidup di habitat sekitar areal konsensi Chevron Geothermal Indonesia – Taman Nasional Gunung Halimun Salak dengan penyebaran terbanyak berada di daerah genangan (ponds). Jumlah telur terbanyak disekitar ponds ditemukan pada bulan Mei (data penelitian april – september 2008).</p>
<p>Jadi untuk perkembangbiakkannya Katak Pohon membutuhkan habitat dengan genangan dan aliran air yang baik dan juga untuk perkembangannya saat dewasa Katak Pohon membutuhkan kondisi lingkungan (pohon dan tanaman) yang mendukung. Air dan tanaman menjadi faktor penting dalam kehidupan Katak Pohon.</p>
<p>Air diduga menjadi salah satu media penularan penyakit pada katak yaitu Chytridiomycosis. Chytridiomycosis adalah penyakit pada amphibi yang disebabkan oleh jamur Batrachochytrium dendrobatidis (Bd). Untuk di Jawa, dalam satu penelitian yang bekerjama dengan James Cook University Australia, empat jenis katak di Taman Nasional Gunung Pangrango seperti Rhacoporus javanus, Rana chalconota, Leptobrateum haseltii dan Limnonectes microdiscus yang sampelnya diambil di habitat akuatik positif mengidap Bd.</p>
<p>Terancamnya habitat katak di pulau Jawa baik oleh permukiman manusia ataupun lingkungan yang tidak sehat menjadi tanggungjawab kita semua. Semoga dapat dicegah terancamnya keberadaan jenis katak pohon seperti yang terjadi pada Philautus jacobsoni yang tidak pernah lagi ditemukan di daerah Ungaran dan Nictyxalus margaritifier yang sulit ditemukan di Jawa Barat, bahkan hal ini tidak mustahil terjadi pada katak-katak lain yang belum dideskripsikan.(nw)</p>
<p>Sumber : Seminar Kecil Peka Indonesia, Sekelumit tentang katak Pohon (Mirza D Kusrini) 14 Mei 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/conservation/sekelumit-cerita-katak-pohon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia and Islands</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/conservation/indonesia-and-islands/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/conservation/indonesia-and-islands/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 06:27:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[conservation]]></category>
		<category><![CDATA[research]]></category>
		<category><![CDATA[Global Warming]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[insect]]></category>
		<category><![CDATA[island]]></category>
		<category><![CDATA[wallace]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[It is not too much to say that when we have mastered the difficulties presented by the peculiarities of island life we shall find it comparatively easy to deal with the more complex and less clearly defined problems of continental distribution (Wallace, 1902) These words taken from Alfred Russell Wallaces Island Life encapsulate an over-aching [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">It is not too much to say that when we have mastered the difficulties presented by the peculiarities of island life we shall find it comparatively easy to deal with the more complex and less clearly defined problems of continental distribution (Wallace, 1902) These words taken from Alfred Russell Wallaces Island Life encapsulate an over-aching idea that could be termed the central paradigm of island biogeography. It is that islands, being discrete, internally quantifiable, numerous, and varied entities, provide us with a suite of natural laboratories, from which the discerning natural scientist can make a selection that simplifies the complexity of the natural world, enabling theories of general importance to be developed and tested (Whittaker, 2007).</p>
<p style="text-align: justify;">The scarcity of kinds-the richness in endemic forms in particular classes or section of classes, &#8211; the absence of whole group, as of batrachians, and of terrestrial mammals notwithstanding the presence of aerial bats, &#8211; the single proportions of certain orders of plants, &#8211; herbaceous forms having developed into trees,- seem to me to accord better with the view of occasional means of transport having been largely efficient in the long course of time, than with the view of all our oceanic islands having been formerly connected by contiguous land with the nearest continent (Darwin, 1859).In terms of biodiversity, the issue is clearer: islands boast a truly unique assemblage of life. Species become island dwellers either by drifting on islands, like castaways, as they break off from larger landmasses (in the case of continental islands) or by dispersing across the ocean to islands newly emerged from the ocean floor (oceanic islands). Henceforth they are confined to small, isolated areas located some distance from other large landmasses. Over time, this isolation exerts unique evolutionary forces that result in the development of a distinct genetic reservoir and the emergence of highly specialized species with entirely new characteristics and the occurrence of different adaptations. The legacy of a unique evolutionary history, many island species are endemic found nowhere else on Earth. Islands harbour higher concentrations of endemic species than do continents, and the number and proportion of endemics rises with increasing isolation, island size and topographic variety. It has often been remarked that islands make a contribution to global biodiversity that is out of proportion to their land area. In this sense, they can be thought of collectively as biodiversity hot spots, containing some of the richest reservoirs of plants and animals on Earth (CBD, 2007) Indonesia has already lost some of its biodiversity through human activity, and forests have become fragmented through expansion of agriculture and housing. Research has been conducted into the effects of fragmentation on biodiversity using insects as an indicator (Hunter 2000; Gonzalez 2000). PEKA Indonesia has been conducting research on Island Biogeography since 2003, in Thousand Island Sanctuary (Northern Sea of Jakarta Bay), Java. The Thousand Island Sanctuary is proposed as a research location because it represents tropical islands with varying land use patterns. Several islands of the Sanctuary have been dramatically modified and used for human habitation and tourism, which brings new threats for many of their native species (some of which may be endemic). Previous surveys indicated that human activities have aided the distribution of invasive alien ant species Anoplolepis gracilipes and Solenopsis geminata in several small islands of Kepulauan Seribu Sanctuary, which can be a threat to the endemic local ant populations (Rizali, 2006).The Highlights of PEKA Indonesia research on Island Biogeography: 1. PREVIOUS RESEARCH Species Richness and Structure of Ant Communities in Small Tropical Islands: Effect of Area, Island isolation, Land Use, and presence of Boat Docks. (Akhmad Rizali) This research was conducted to study species richness and community structure of ant on small island. Eighteen islands differing in area, isolation from the mainland, land use history, and the presence of boat docks were selected to study these effects on species richness and the stucture of ant communites. Island characteristics were measured with geographical information system (GIS). Ant sampling was conducted using intensive collecting in 5m x 5m plots established in representative habitats. Species accumulation curves in combination with techniques extrapolating the total expected species richness were used to estimate the completeness of species inventories. Non-metric multidimentional scaling analysis (MDS) and canonical correspondence analysis (CCA) were used to study relationship between ant and island characteristics. Over 48 species from subfamilies and 28 genera were recorded from all islands. While the species accumulation curve from all islands reached saturation, the curves for some islands indicated that still not all species were recorded by the sampling. MDS showed that island characteristic tend to influence species composition. Similarly, based on CCA, the occurrence of certain species was highly related to island characteristics. A total of 8 cryptic and 3 exotic invasive species were recorded. Most of these are widespread within the archipelago. The presence of nearly all cryptic species was strongly influenced by island isolation and land use. These species have a high potential as indicators for land use change. Furthermore, the occurrence of invasive ant species was related to the occurrence of docks, and their presence seemed ta have impact to ant diversity on the islands. Human-induces habitat modification on islands were identified as the main factor for the occurrence and distribution of tramp species within Seribu islands. Intensive and varied collecting methods are effective for characterizing ant species richness on islands. Ant diversity in Seribu Islands was affected by several island characteristics including area, isolation, land use, and the occurrence of docks on islands. Combination of all island characteristics were highly related to ant diversity in Seribu Islands. Highly disturbed habitats on islands in Seribu Islands made certain species disappear 2. ON-GOING RESEARCH Invasive Alien Ants in Small Island of Kepulauan Seribu Sanctuary- Indonesia: Its Possible Impact Toward Local Ant Communities.  (Akhmad Rizali) Alien invasive ant species are major threats to indigene and endemic ant species for small islands such as in Seribu Islands. The main objective of this project is to quantify to which extent invasive ant populations is affecting native ant communities that may be endangered and endemic. The study will clarify how much species are native and endemic, and how much are introduced and invasive. Ecological observation will be conducted in three different islands representing three conditions: highly populated island, unique bird island, and unexplored island. Ants will be surveyed by pitfall traps and intensive collecting method in plots. All information gained from the project will be used to develop conservation strategies of local species in the protected area. 3. POTENTIAL RESEARCH STUDY OF ECOLOGICAL RESILIENCE OF BEETLE DIVERSITY IN TROPICAL ISLANDS IN THE FACE OF HUMAN ACTIVITIES: A CASE STUDY FROM THOUSAND ISLANDS SANCTUARY INDONESIA (Shinta Puspitasari) The Thousand Island Sanctuary, North Coast Jakarta Bay, is proposed as a research location because it represents tropical islands with varying land use patterns. Diversity of invertebrate communities will be analysed in a set of different islands, which are characterized by differing degrees of anthropogenic influence. Pitfall and light traps as well as sweep netting will be used to generate samples of ground beetles and other suitable arthropod taxa to be decided on in the first week of sampling (i.e. taxa which are commonly encountered in large numbers and comparatively easy to identify). These samples will be a basis for the analysis how anthropogenic disturbance as well as island size and isolation influence the diversity and composition of arthropod communities. In addition, a basic set of environmental parameters (temperature, humidity, and vegetation structures) will be recorded during the sampling to analyze potential links between these factors and arthropod species compositions.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/conservation/indonesia-and-islands/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
