<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yayasan Peduli Konservasi Alam Indonesia - PEKA-INDONESIA.ORG &#187; events</title>
	<atom:link href="http://www.peka-indonesia.org/category/events/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.peka-indonesia.org</link>
	<description>Konservasi, Yayasan, Foundation, Indonesia, Indonesia Foundation, Indonesia Conservation Foundation, Konservasi Hutan, Konservasi Alam Indonesia, Pendidikan Lingkungan, Pengembangan Masyarakat, Serangga, Penelitian Serangga, Insect Conservation, Insect Research, PEKA Indonesia Foundation, Peduli Konservasi Alam Indonesia Foundation</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Nov 2009 14:21:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Burung dan Tumbuhan Obat di pertemuan JPL</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/community/burung-dan-tumbuhan-obat-di-pertemuan-jpl/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/community/burung-dan-tumbuhan-obat-di-pertemuan-jpl/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 02:40:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nitawiyesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[community]]></category>
		<category><![CDATA[conservation]]></category>
		<category><![CDATA[events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=465</guid>
		<description><![CDATA[Presentasi  Adi Kristanto yang berjudul “Peranan ruang terbuka hijau bagi perkembangan burung di Jakarta” menuntut kepedulian audiens.  Mewakili Bird Watch Community ia mengatakan bahwa ruang terbuka hijau kota Jakarta yang menjadi tempat tinggal, singgah dan mencari makan bagi berbagai jenis burung masih berada di bawah luas ideal yang seharusnya 30% dari total luas

wilayah Jakarta. Ruang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Presentasi  Adi Kristanto yang berjudul “Peranan ruang terbuka hijau bagi perkembangan burung di Jakarta” menuntut kepedulian audiens.  Mewakili Bird Watch Community ia mengatakan bahwa ruang terbuka hijau kota Jakarta yang menjadi tempat tinggal, singgah dan mencari makan bagi berbagai jenis burung masih berada di bawah luas ideal yang seharusnya 30% dari total luas</p>
<p><img class="alignleft" title="Burung dan Tumbuhan Obat di pertemuan JPL" src="http://img688.imageshack.us/img688/2982/burungdantanamanobatjpl.jpg" alt="" width="299" height="225" /></p>
<p>wilayah Jakarta. Ruang terbuka Hijau seperti Monas, Hutan di Muara Angke dan wilayah hijau di sekitar condet dan Jakarta Selatan adalah beberapa yang tersisa untuk burung-burung.</p>
<p>Hewan yang diminati untuk dipelihara karena keunikan bulu, suara atau penampilannya ini semakin berkurang jenisnya. Berdasarkan data pengamatan dari Bird Watch Community, di wilayah pesisir Jakarta sedikitnya 6 jenis burung terancam punah.  Jumlah ini akan terus bertambah apabila tidak ada tindakan yang nyata untuk mengatasi permasalahan ini.<br />
Sangat disayangkan perubahan fungsi lahan menjadi pemukiman, lapangan golf dan mal yang paling banyak dibangun di Jakarta. Tanaman di taman kota yang hanya memfokuskan pada segi estetika dan tidak bisa menjadi sumber makanan bagi burung-burung juga perlu ditinjau kembali. Tidak semua burung memiliki kemampuan beradaptasi dengan pertumbuhan kota seperti  burung gereja dan kutilang. Untuk itu ruang terbuka hijau sangat penting keberadaanya, khususnya bagi burung.</p>
<p><img class="alignleft" title="Burung dan Tumbuhan Obat di pertemuan JPL2." src="http://img688.imageshack.us/img688/3619/burungdantumbuhanobatdi.jpg" alt="" width="307" height="229" />Tanggapan aktif dan positif dari audiens yang adalah peserta pertemuan anggota Jaringan Pendidikan Lingkungan Kamis 13 Agustus 2009 lalu juga diberikan pada presentasi kedua. Presentasi  menjadi bagian acara pertemuan ini diharapkan menghidupkan kembali Jaringan Pendidikan Lingkungan yang kini diketuai oleh Koen Setyawan.</p>
<p>Mega Ika dari Peka Indonesia berpartisipasi dengan memaparkan hasil kegiatan penelitian penggalian potensi etnobotani di desa sirnarasa. Penelitian ini berusaha mendokumentasikan pengetahuan masyarakat akan fungsi tumbuhan di sekitar mereka sebagai tanaman obat dan untuk keperluan alat rumah tangga.   Penelitian etnobotani untuk tanaman obat didasari dari perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap obat produksi pabrik. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa hampir  70%  siswa sekolah dasar yang tinggal di desa sirnarasa tidak mengenal tumbuhan obat. Ini menjadi keprihatinan bersama mengingat desa mereka yang dikelilingi oleh hutan, menyimpan potensi yang besar  untuk tumbuhnya berbagai tanaman obat.</p>
<p>Kelemahan lain adalah pengetahuan tentang tanaman obat dan cara penggunaannya hanya diketahui segelintir orang yang masih menggunakan misalnya mak beurang (dukun beranak), bengkong (dukun sunat) dan orang-orang lanjut usia. Tidak ada dokumentasi tertulis yang ditemukan, semua mengandalkan ingatan di kepala. Proses regenerasi dan transfer pengetahuan juga hampir terputus dengan rendahnya minat anak-anak muda untuk mempelajari hal tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, Peka Indonesia merasakan kekhawatiran hilangnya pengetahuan lokal sebagai bagian dari budaya yang sangat berharga.</p>
<p>Berusaha mencari solusi dari permasalahan diatas, diskusi antara audiens mengarah pada pentingnya dirumuskan dan dikembangkan kegiatan yang terbaik untuk terus melestarikan pengetahuan dan jenis tumbuhannya. Faktor ekonomi, konservasi dan budaya harus diramu menjadi kegiatan yang bergengsi dan menarik bagi masyarakat, sehingga diharapkan masyarakat akan sadar dan mandiri dalam melestarikan  dan memanfaatkan tanaman di sekitarnya. (nw)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/community/burung-dan-tumbuhan-obat-di-pertemuan-jpl/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup Sehat dengan Produk Organik</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/events/hidup-sehat-dengan-produk-organik/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/events/hidup-sehat-dengan-produk-organik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 03:14:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nitawiyesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Memperingati hari Lingkungan Hidup, pada Kamis 4 Juni 2009,  RS Persahabatan yang menyatakan diri sebagai Green Hospital, menyelenggarakan Seminar yang berjudul “Healthy Life Trend”.
Seminar diawali dengan penjelasan tentang pola makan yang baik untuk kesehatan dan keindahan tubuh oleh dr.Paidon, penulis buku Fat Loss not Weight Loss. Para audiens yang kebanyakan ibu-ibu sangat menyukai materi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="sayuran-organik" src="http://img690.imageshack.us/img690/7392/sayuranorganik.jpg" alt="" width="326" height="359" />Memperingati hari Lingkungan Hidup, pada Kamis 4 Juni 2009,  RS Persahabatan yang menyatakan diri sebagai Green Hospital, menyelenggarakan Seminar yang berjudul “Healthy Life Trend”.</p>
<p>Seminar diawali dengan penjelasan tentang pola makan yang baik untuk kesehatan dan keindahan tubuh oleh dr.Paidon, penulis buku Fat Loss not Weight Loss. Para audiens yang kebanyakan ibu-ibu sangat menyukai materi yang sangat apik dan disampaikan dengan santai dan komunikatif. Sang dokter banyak memberikan tips dan trik untuk memilih bahan makanan yang cocok dan kegiatan yang mendukung pola hidup sehat.</p>
<p>Seminar dilanjutkan dengan pengenalan akan produk-produk organik yang disampaikan oleh Ibu Bibong dari Rumah Organik. Sebagai perwakilan dari konsumen produk organik, audiens diminta untuk dapat membedakan kualitas dari produk pertanian organik dengan produk pertanian konvensional. Hasilnya, sepakat bahwa produk organik memiliki keunggulan dari segi kualitas produk, rasa dan keamanannya karena tidak mengandung zat kimia tambahan yang biasanya tercampur melalui pupuk ataupun pestisida.</p>
<p>Dalam kesempatan ini juga dibedah permasalahan konsumen akan produk pertanian organik seperti harga yang lebih tinggi, pemasaran yang eksklusif dan kurangnya variasi produk yang dibawakan oleh Bapak Imron dari Kebunku. Perlakuan yang khusus dalam bertanam secara organik seperti tidak menanam satu jenis tanaman dalam lahan yang luas, sistem tumpangsari dan memastikan semua yang digunakan dalam bertani seperti air, pestisida, dan pupuk yang digunakan benar-benar alami tanpa produk kimia apapun membuka mata bahwa produk organik memang spesial.</p>
<p>Memilih untuk mengkonsumsi produk organik tidak hanya baik untuk diri sendiri, tetapi juga baik untuk petani dan lingkungan kita. Pemaparan yang luas tentang produk pertanian organik kaitannya dengan konservasi alam disampaikan oleh Heri Tabadepu dari Peka Indonesia. Pola bertanam yang bebas dari bahan kimia dan rekayasa genetik  adalah salah satu pendukung bahwa pertanian organik ramah lingkungan. Pilihan kita dalam menentukan produk yang akan di konsumsi menentukan imbas yang berkait tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga orang lain dan lingkungan sekitar. Produk organik adalah jawaban untuk kesehatan, kesejahteraan dan ramah lingkungan.(nw)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/events/hidup-sehat-dengan-produk-organik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Penghargaan bagi Pejuang Lingkungan</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/community/sebuah-penghargaan-bagi-pejuang-lingkungan/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/community/sebuah-penghargaan-bagi-pejuang-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 09:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nitawiyesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[community]]></category>
		<category><![CDATA[events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=438</guid>
		<description><![CDATA[
Dalam pemberian penghargaan Kehati Award, 26 Mei 2009, tampillah pejuang-pejuang lingkungan yang dengan gigih menjaga lingkungannya untuk tetap lestari. Aksi nyata mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan patut dihargai dan dilanjutkan.
Salah satunya adalah Prakarsa Lestari Kehati dimenangkan oleh Masyarakat Adat Hutan Wonosadi Gunung Kidul, DIY, yang berhasil menyelamatkan hutan adat seluas 25 Ha menjadi hutan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p>Dalam pemberian penghargaan Kehati Award, 26 Mei 2009, tampillah pejuang-pejuang lingkungan yang dengan gigih menjaga lingkungannya untuk tetap lestari. Aksi nyata mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan patut dihargai dan dilanjutkan.</p>
<p>Salah satunya adalah Prakarsa Lestari Kehati dimenangkan oleh Masyarakat Adat Hutan Wonosadi Gunung Kidul, DIY, yang berhasil menyelamatkan hutan adat seluas 25 Ha menjadi hutan yang hijau dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Upaya pelestarian melalui budaya dan kearifan masyarakat ini dirintis sejak 44 tahun yang lalu.</p>
<p>Belajar dari pengalaman ini, kita menyadari bahwa perbaikan kondisi lingkungan memerlukan waktu yang lama.Untuk itu menjaga kelestarian lingkungan adalah tanggungjawab setiap bagian masyarakat dan amanah bagi tiap generasi. Banyak hal yang dapat dilakukan, contohnya para pemenang Kehati Award yang telah melakukan Pelestarian satwa langka penyu hijau di Pulau Luar, Pemafaatan Keanekaragaman Hayati sebagai obat herbal dan meningkatkan perekonomian, Mengembangkan pertanian ramah lingkungan, dan produksi batik dengan pewarna alami.</p>
<p><a href="http://lh4.ggpht.com/_Tt2qd301QH4/SiiIIz9gRwI/AAAAAAAAAE8/Ql3Mh9t442s/s400/kehati_award_2.jpg"><img class="picasa alignleft" src="http://lh4.ggpht.com/_Tt2qd301QH4/SiiIIz9gRwI/AAAAAAAAAE8/Ql3Mh9t442s/s400/kehati_award_2.jpg" alt="kehati award" width="229" height="171" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a rel="lightbox" href="http://lh3.ggpht.com/_Tt2qd301QH4/SiiGgUGVW4I/AAAAAAAAAE4/YKKolgW8D1A/s400/kehati_award_1.jpg"><img class="picasa aligncenter" src="http://lh3.ggpht.com/_Tt2qd301QH4/SiiGgUGVW4I/AAAAAAAAAE4/YKKolgW8D1A/s400/kehati_award_1.jpg" alt="kehati award" width="228" height="172" /></a></p>
<p>Satu yang spesial adalah Sahabat Alam, kelompok anak-anak yang peduli lingkungan. Sahabat Alam menjadi pemenang kategori Tunas Lestari Kehati, dalam program edukasi untuk anak-anak melalui aksi peduli lingkungan untuk melestarikan Alam dan lingkungan. Semoga gaung kepedulian lingkungan yang sangat marak akhir-akhir ini dan munculnya ecotrend sebagai bentuk pemahaman dan gaya hidup peduli lingkungan semakin mendorong munculnya pejuang-pejuang lain.(nw)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/community/sebuah-penghargaan-bagi-pejuang-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengetahuan etnobotani bagi Kelestarian Lingkungan</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/events/manfaat-etnobotani-untuk-masyarakat-dan-kelestarian-lingkungan/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/events/manfaat-etnobotani-untuk-masyarakat-dan-kelestarian-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 02:27:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nitawiyesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Istilah etnobotani dipahami sebagai suatu bidang ilmu yang mempelajari interaksi masyarakat dengan lingkungan hidupnya, khususnya tumbuhan.  Tumbuhan  memberikan manfaat yang begitu besar bagi manusia melalui berbagai khasiat yang dimilikinya, mulai dari kandungan nutrisi, hingga kedahsyatan metabolit sekunder yang dihasilkan baik untuk kesehatan (obat-obatan), pakan ternak, dan pestisda botani.   Pengetahuan manusia tentang manfaat tanaman ini sebenarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Istilah etnobotani dipahami sebagai suatu bidang ilmu yang mempelajari interaksi masyarakat dengan lingkungan hidupnya, khususnya tumbuhan.  Tumbuhan  memberikan manfaat yang begitu besar bagi manusia melalui berbagai khasiat yang dimilikinya, mulai dari kandungan nutrisi, hingga kedahsyatan metabolit sekunder yang dihasilkan baik untuk kesehatan (obat-obatan), pakan ternak, dan pestisda botani.   Pengetahuan manusia tentang manfaat tanaman ini sebenarnya telah dimulai sejak berabad-abad lalu dan diturunkan kepada anak cucu hingga sekarang.  Bahkan bidang kedokteran saat ini juga telah banyak mengembangkan obat-obatan yang berasal dari senyawa yang dihasilkan tanaman.<br />
Namun demikian, dari sekian banyak manfaat tanaman, baru sedikit yang diketahui  dan dimanfaatkan luas oleh masyarakat.  Beberapa yang sangat terkenal diantaranya obat-obatan tradisional masyarakat Jawa Klasik, yang kemudian banyak dikomersialkan menjadi berbagai jenis obat herbal.  Sebenarnya pengetahuan tentang pemanfaatan tanaman yang masih belum banyak digali adalah kearifan tradisional masyarakat asli daerah tertentu yang tidak banyak berinteraksi dengan modernisasi.  Pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan ini, biasanya diketahui secara turun temurun dan bersifat sebagai pengetahuan lokal sehingga menjadi ciri dari suatu masyarakat tradisional.  Seiring dengan percepatan modernisasi yang telah menyentuh daerah masyarakat tradisional, sangat penting untuk mendokumentasikan pengetahuan lokal ini agar tetap lestari dan tidak hilang seiring dengan laju gaya hidup kota yang sedikit banyak telah mempengaruhi generasi muda dari masyarakat tradisional.</p>
<p>Bertolak dari alasan inilah, Yayasan Peka Indonesia melakukan pengamatan dan penggalian informasi di desa Sirnarasa, Sukabumi Jawa Barat. Sirnarasa adalah desa yang lokasinya di kelilingi Taman Nasional Halimun Salak, dimana sebagian besar masyarakatnya memanfaatkan keberadaaan hutan di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan hidup termasuk obat-obatan.<br />
Lokasinya desa yang berdekatan dengan masyarakat adat Kasepuhan, menjadikan masyarakat desa Sirnarasa dapat dikelompokkan sebagai masyarakat adat dan masyarakat non adat yang sudah menerima modernisasi. Termasuk masyarakat adat adalah masyarakat yang masih memegang dan menjalankan aturan-aturan yang berlaku di Kasepuhan.<br />
Salah satu modernisasi yang sudah masuk ke wilayah ini adalah obat-obatan bermerek produksi pabrik.  Kemudahan dalam mendapatkan dan mengkonsumsi produk obat ini ternyata memberi dampak yang menjadi kekhawatiran bersama akan pengetahuan etnobotani. Berdasarkan survei yang dilakukan, 75% anak usia sekolah dasar tidak lagi mengenal tumbuhan yang dapat dijadikan obat.  Ketidaktahuan ini memicu hilangnya berbagai tumbuhan bermanfaat obat, yang sebelumnya banyak tumbuh di sekitar pemukiman.</p>
<p>Selain itu, masuknya peralatan rumah tangga yang terbuat dari plastik juga menjadi salah satu alasan ditinggalkannya peralatan rumah tangga yang terbuat dari kayu seperti gayung awi, dulang nasi (tempat nasi) ataupun lodong (tempat air). Peminat yang terus berkurang membuat pengrajin tidak bersemangat mengembangkan produknya. Sehingga permintaan dan kebutuhan menjaga bahan baku yang  berasal dari tumbuhan pun perlahan ditinggalkan.</p>
<p>Pengetahuan adalah kunci utama agar Etnobotani dijalankan dengan kearifan dalam meningkatkan manfaat tumbuhan dan menjaga kelestariannya. Tergerak untuk mendokumentasikan pengetahuan yang hampir hilang, Peka Indonesia melakukan dokumentasi Etnobotani.  Bersama masyarakat desa sirnarasa, melalui siswa sekolah dasar, guru, mak beurang (dukun melahirkan) dan orang tua membuat dokumentasi tertulis pemanfaatan etnobotani untuk obat-obatan dan peralatan rumah tangga. Selain itu juga dibuat apotik hidup dan herbarium sebagai wahana pelestarian plasma nutfah tanaman obat bagi masyarakat. Tidak ketinggalan kunjungan silang ke museum Etnobotani bagi guru sekolah dasar, untuk menambah pengetahuan mereka.</p>
<p>Hasilnya, ditemukan 64 jenis obat yang dahulu dikonsumsi masyarakat sirnarasa. Namun, hanya 34 yang dapat diidentifikasi dan didokumentasikan. Mulai dikembangkannya apotik hidup dan siswa sekolah dasar mampu membuat herbarium. Pengetahuan yang telah terdokumentasi diharapkan dapat dijaga dan diterapkan dalam kehidupan, sehingga kedepannya dapat dikembangkan lagi pengetahuan dan pelestarian tumbuhan yang bermanfaat bagi manusia.(nw)</p>
<p><em>Tulisan ini bersumber dari Seminar Kecil Peka Indonesia 25 Maret 2009 : Penggalian Potensi Etnobotani Halimun (Studi Kasus : Masyarakat Sirnarasa Sukabumi) yang disampaikan oleh Mega Ika Cahyani.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/events/manfaat-etnobotani-untuk-masyarakat-dan-kelestarian-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenalkan Anak Pada Lingkungan</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/community/mengenalkan-anak-pada-lingkungan/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/community/mengenalkan-anak-pada-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 03:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[community]]></category>
		<category><![CDATA[environmental education]]></category>
		<category><![CDATA[events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Pengenalan anak terhadap lingkungan di sekitarnya dengan mendekatkan keanekaragaman penghuni alam pada anak-anak mulai ditumbuh-kembangkan. Salah satunya adalah melalui acara pameran interaktif yang digelar di SD Bogor Raya, Kamis,  22 April lalu.  Kegiatan ini dibangun dalam rangka memperingati hari Bumi dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat mulai dari anak-anak, guru, orang tua siswa, dan lembaga swadaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pengenalan anak terhadap lingkungan di sekitarnya dengan mendekatkan keanekaragaman penghuni alam pada anak-anak mulai ditumbuh-kembangkan. Salah satunya adalah melalui acara pameran interaktif yang digelar di SD Bogor Raya, Kamis,  22 April lalu.  Kegiatan ini dibangun dalam rangka memperingati hari Bumi dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat mulai dari anak-anak, guru, orang tua siswa, dan lembaga swadaya masyarakat setempat.  Hampir seluruh warga sekolah ini menggunakan ”dresscode” warna hijau, dinding  ruang makan siswa dihiasi dengan lukisan yang bertema lingkungan hasil karya para siswa dan siswi.  Dalam kesempatan ini beberapa LSM mengambil bagian dengan memperkenalkan kegiatannya kepada siswa – siswi , diantaranya  RMI,  Greenpeace Indonesia, Uni Konservasi Fauna, Borneo Orangutan Survival (BOS),  Matoa dan beberapa kelompok penghasil produk daur ulang.  Tidak ketinggalan Yayasan Peka  Indonesia, turut mengambil peran. Peka  Indonesia berupaya mengenalkan kanekaragaman hayati pada anak-anak dengan menampilkan  spesimen  serangga ( kumbang dan ngengat), katak, dan katak yang masih hidup.  Kegiatan ini  sangat menarik perhatian dan rasa ingin tahu anak-anak. Mereka sangat tertarik untuk melihat  dan tidak ragu untuk  memegang katak-katak yang dipamerkan.    Dalam  kesempatan  tersebut Peka Indonesia dibantu oleh anggota Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (Himakova) memberikan penjelasan mengenai serangga dan katak, mulai dari morfologi, habitat dan ancamannya dengan tanya  jawab bersama anak-anak yang mengunjungi stand Peka  Indonesia. Diharapkan kegiatan seperti ini dapat membuka informasi dan pengetahuan anak-anak tentang lingkungan  yang ada di sekitarnya dan menggugah mereka untuk dapat  melestarikan lingkungan  dengan cara yang mereka bisa lakukan.(nw).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/community/mengenalkan-anak-pada-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Balad Kuring Kabupaten Bogor</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/events/balad-kuring-dan-harapan-selanjutnya/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/events/balad-kuring-dan-harapan-selanjutnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 03:17:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nitawiyesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu 30 Mei 2009, Cibinong, Pemerintah Kabupaten Bogor menggelar acara Balad Kuring yang dilakukan serentak di Seluruh Kabupaten dan Kota yang ada di Jawa Barat. Acara dibuka oleh Wakil Bupati Kabupaten Bogor, di Jalan Tegar Beriman yang bebas kendaraan bermotor (car free) dan diisi dengan jalan santai dan sepeda santai. Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Lingkungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu 30 Mei 2009, Cibinong, Pemerintah Kabupaten Bogor menggelar acara Balad Kuring yang dilakukan serentak di Seluruh Kabupaten dan Kota yang ada di Jawa Barat. Acara dibuka oleh Wakil Bupati Kabupaten Bogor, di Jalan Tegar Beriman yang bebas kendaraan bermotor (car free) dan diisi dengan jalan santai dan sepeda santai. Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup dan jajaran pemerintah kabupaten bogor melibatkan beberapa LSM lokal seperti Peka Indonesia, Jejak, IISES, dan PILI.</p>
<p>Wakil Bupati dan para peserta jalan santai mengikuti berbagai kegiatan seperti penanaman pohon kemang, penebaran benih ikan tawes dan pembuatan lubang biopori. Selain itu juga mengunjungi stand-stand yang menampilkan produk-produk ramah lingkungan. Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan lomba gambar dengan tema lingkungan bagi siswa sekolah dasar dan pertunjukkan seni oleh musisi jalanan dan dimeriahkan oleh Ully Sigar Rusady.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/events/balad-kuring-dan-harapan-selanjutnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kampanye Tentang Adaptasi dan Mitigasi Pemanasan Global</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/kampanye-tentang-adaptasi-dan-mitigasi-pemanasan-global/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/kampanye-tentang-adaptasi-dan-mitigasi-pemanasan-global/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 03:25:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[climate change]]></category>
		<category><![CDATA[events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=398</guid>
		<description><![CDATA[Green Festival, Botani Square 11-26 April 2006.
Pemanasan global telah menjadi isu penting yang hangat diperbincangkan.  Perubahan iklim merupakan dampak dari pemanasan global yang bisa dirasakan oleh  penduduk dari berbagai penjuru dunia.  Akibat nyata dari perubahan iklim  yang sangat dirasakan adalah musibah banjir, kekeringan, dan timbulnya berbagai wabah penyakit.   Oleh karena itu tema yang diangkat dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Green Festival, Botani Square 11-26 April 2006.</em></p>
<p>Pemanasan global telah menjadi isu penting yang hangat diperbincangkan.  Perubahan iklim merupakan dampak dari pemanasan global yang bisa dirasakan oleh  penduduk dari berbagai penjuru dunia.  Akibat nyata dari perubahan iklim  yang sangat dirasakan adalah musibah banjir, kekeringan, dan timbulnya berbagai wabah penyakit.   Oleh karena itu tema yang diangkat dalam Green Festival untuk memperingati hari bumi 22 April adalah Pemanasan Global: Mitigasi dan Adaptasi. Green Festival ini diselenggarakan oleh . Jaringan Pendidikan Lingkungan (JPL) dan Botani Square mulai tanggal 11-26 April 2009 di lantai 3 Mal Botani Square.  Termasuk dalam rangkaian kegiatan Green Festival adalah pameran LSM lingkungan, Diskusi, Pemutaran film lingkungan dan Pentas Seni.</p>
<p><a href="http://img17.imageshack.us/img17/5069/pameran2.jpg" rel="lightbox"><img class="alignleft" src="http://img17.imageshack.us/img17/5069/pameran2.jpg" alt="" width="450" height="302" /></a></p>
<p>Peka Indonesia sebagai anggota  JPL, berperan aktif  dalam pameran Green Festival dengan membuka stand yang memaparkan informasi tentang  edukasi, promosi, dan fasilitasi.</p>
<p>Edukasi berisikan informasi lingkungan yang menjadi kerja Peka Indonesia. Salah satunya informasi hasil penelitian keanekaragaman serangga dan katak. Dalam pameran ini dipamerkan spesimen penelitian yang ditata dengan baik sehingga menarik minat pengunjung untuk mengetahui tentang spesimen tersebut. Dalam kesempatan itu kami terbuka untuk diskusi dan tanya jawab seputar masalah lingkungan dan penelitian serangga-katak. Informasi ini penting untuk menambah wawasan pengunjung karena Global Warming tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga pada hewan kecil yang sering diabaikan seperti serangga dan katak.</p>
<p>Selain itu juga dipamerkan dan dijual contoh hasil kerajinan masyarakat Halimun seperti miniatur leuit dan tas anyam. Kami juga mempromosikan produk sayuran organik, yang ditanam oleh petani binaan Peka Indonesia dari daerah Cisarua, Gunung Salak. Dengan semakin dikenalnya dan luasnya pemasaran produk kerajinan masyarakat Halimun dan produk sayur organik petani Cisarua-Gunung Salak diharapkan kedepannya dapat membantu meningkatkan perekonomian mereka, sehingga sebagai masyarakat yang tinggal di kawasan hutan, mampu bersama-sama menjaga kelestarian hutan tanpa mengorbankan lebih besar kebutuhan ekonomi mereka.</p>
<p><a href="http://img17.imageshack.us/img17/7465/pameran1.jpg"  rel="lightbox"> <img class="alignleft" src="http://img17.imageshack.us/img17/7465/pameran1.jpg" alt="" width="450" height="302" /></a></p>
<p>Bagi setiap orang yang tertarik dan ingin berpartisipasi dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan dapat bergabung dalam Green Leaders Forum (GLF). GLF adalah komunitas pecinta lingkungan yang bernaung di bawah Peka Indonesia untuk melakukan kegiatan-kegiatan lingkungan sesuai dengan bidang dan kemampuan para member GLF. GLF berhasil</p>
<p>Tidak ketinggalan informasi-informasi dalam bentuk leaflet tentang konservasi kawasan hutan koridor Halimun-Salak, Pertanian Organik, Pendidikan Lingkungan untuk siswa sekolah dasar, Global Warming kami berikan kepada pengunjung. Semoga kegiatan ini semakin meningkatkan kepedulian masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan bagi manusia, dan alam sekitarnya.(nw)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/kampanye-tentang-adaptasi-dan-mitigasi-pemanasan-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dede Yusuf Tebar Ikan Kampanyekan Balad Kuring</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/events/dede-yusuf-tebar-ikan-kampanyekan-balad-kuring/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/events/dede-yusuf-tebar-ikan-kampanyekan-balad-kuring/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 07:37:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[BOGOR &#8211; Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf terus mengkampanyekan Balad Kuring sebagai gerakan prolingkungan di Jawa Barat. Hal tersebut diungkapkannya saat menebar ribuan bibit ikan di Danau Situ Gede di Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Senin (25/5).
Dede Yusuf menjelaskan, Balad Kuring, yang dalam bahasa Indonesia bermakna sahabat atau teman saya atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">BOGOR &#8211; Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf terus mengkampanyekan Balad Kuring sebagai gerakan prolingkungan di Jawa Barat. Hal tersebut diungkapkannya saat menebar ribuan bibit ikan di Danau Situ Gede di Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Senin (25/5).</p>
<p>Dede Yusuf menjelaskan, Balad Kuring, yang dalam bahasa Indonesia bermakna sahabat atau teman saya atau kita, merupakan program penyelamatan lingkungan di seluruh Jawa Barat, yang bukan program pemerintah atau kepemerintahan. Balad Kuring lahir dari forum masyarakat pemerhati dan pencinta lingkungan, khususnya mayarakat dan lingkungan Jawa Barat.</p>
<p>&#8220;Balad Kuring adalah forum bersama untuk kita semua sadar dan peduli pada lingkungan. Konsepnya seperti organisasi Green Peace-lah, tapi ini ala Jawa Barat,&#8221; kata Dede. Pada kesempatan itu, ia bersama Wali Kota Bogor Diani Budiarto menebar bibit ikan nila sebanyak 100 ribu di Danau Situ Gede.</p>
<p>Penebaran ikan di Danau Situ Gede adalah perkenalan awal dari program Balad Kuring, yang secara resmi akan diluncurkan 30 Mei mendatang. Dede berharap, forum ini nantinya benar-benar menjadi milik masyarakat dan bergulir menjadi suatu gerakan kongkret menyelamatkan lingkungan dari pemanasan bumi.</p>
<p>Langkah nyata itu berupa tindakan masyarakat secara sadar dan tulus, untuk misalnya menjadikan sebuah kawasan lingkungan tinggal/hidupnya menjadi bersih tanpa sampah, tanpa polusi udara, melakukan reboisasi, serta memelihara dan memperluas ruang terbuka hijau.</p>
<p>&#8220;Nanti di 26 kota/kabupaten di Jawa Barat harus ada kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan tanpa sampah, yang berlaku selamanya,&#8221; kata Dede Yusuf.</p>
<p>Adapun Wali Kota Bogor Diani Budiarto memastikan selama kepemimpinannya telah dan terus mengeluarkan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kulitas lingkungan hidup Kota Bogor. Ia mengatakan pemerintahanya terus berupaya menjadikan warga dan Kota Bogor propeningkatan kulitas lingkungan hidup.</p>
<p>&#8220;Kami sudah mulai memproteksi penggunaan lahan dengan mengurangi izin pembangunan perumahan. Kami tidak ingin, lahan terbuka Kota Bogor yang sudah sempit, semakin sempit,&#8221; katanya.</p>
<p>Pemko Bogor pun sedang mempertimbangkan dengan serius untuk memberi instalasi atau alat pemusnah sampah, bagi wilayah-wilayah y ang tidak terjangkau aramada pengangkut sampah. Wilayah di kawasan Bendung Katulampa adalah salah satu wilayah di Kota Bogor yang tidak terjangkau armada truk sampah sehingga banyak wargany a membuang sampah ke Sungai Ciliwung.</p>
<p>&#8220;Kami akan memberi bantuan alat pemusnah sampah agar masyarakat tidak buang sampah sembarangan,&#8221; katanya.</p>
<p>Sedangkan mengenai Danau Situ Gede, Diani memastikan, danau terbesar di Kota Bogor tersebut tidak akan menimbulkan musibah sebagaimana Situ Gintung di Tangerang. Sebab, Danau Situ Gede merupakan danau alam, yang terjadi karena ada cekungan.</p>
<p>Luas danau itu saat ini sekitar empat hektar, dari semula tujuh hektar. Penyempitan danau tersebut akibat pendangkalan sekeliling danau, yang kemudian lahan itu diserobot menjadi tempat hunian. Itu sebabnya, ketika musim hujan, air danau meluap, membanjiri lahan-lahan di sekitarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/events/dede-yusuf-tebar-ikan-kampanyekan-balad-kuring/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
