Burung dan Tumbuhan Obat di pertemuan JPL
Presentasi Adi Kristanto yang berjudul “Peranan ruang terbuka hijau bagi perkembangan burung di Jakarta” menuntut kepedulian audiens. Mewakili Bird Watch Community ia mengatakan bahwa ruang terbuka hijau kota Jakarta yang menjadi tempat tinggal, singgah dan mencari makan bagi berbagai jenis burung masih berada di bawah luas ideal yang seharusnya 30% dari total luas

wilayah Jakarta. Ruang terbuka Hijau seperti Monas, Hutan di Muara Angke dan wilayah hijau di sekitar condet dan Jakarta Selatan adalah beberapa yang tersisa untuk burung-burung.
Hewan yang diminati untuk dipelihara karena keunikan bulu, suara atau penampilannya ini semakin berkurang jenisnya. Berdasarkan data pengamatan dari Bird Watch Community, di wilayah pesisir Jakarta sedikitnya 6 jenis burung terancam punah. Jumlah ini akan terus bertambah apabila tidak ada tindakan yang nyata untuk mengatasi permasalahan ini.
Sangat disayangkan perubahan fungsi lahan menjadi pemukiman, lapangan golf dan mal yang paling banyak dibangun di Jakarta. Tanaman di taman kota yang hanya memfokuskan pada segi estetika dan tidak bisa menjadi sumber makanan bagi burung-burung juga perlu ditinjau kembali. Tidak semua burung memiliki kemampuan beradaptasi dengan pertumbuhan kota seperti burung gereja dan kutilang. Untuk itu ruang terbuka hijau sangat penting keberadaanya, khususnya bagi burung.
Tanggapan aktif dan positif dari audiens yang adalah peserta pertemuan anggota Jaringan Pendidikan Lingkungan Kamis 13 Agustus 2009 lalu juga diberikan pada presentasi kedua. Presentasi menjadi bagian acara pertemuan ini diharapkan menghidupkan kembali Jaringan Pendidikan Lingkungan yang kini diketuai oleh Koen Setyawan.
Mega Ika dari Peka Indonesia berpartisipasi dengan memaparkan hasil kegiatan penelitian penggalian potensi etnobotani di desa sirnarasa. Penelitian ini berusaha mendokumentasikan pengetahuan masyarakat akan fungsi tumbuhan di sekitar mereka sebagai tanaman obat dan untuk keperluan alat rumah tangga. Penelitian etnobotani untuk tanaman obat didasari dari perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap obat produksi pabrik. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa hampir 70% siswa sekolah dasar yang tinggal di desa sirnarasa tidak mengenal tumbuhan obat. Ini menjadi keprihatinan bersama mengingat desa mereka yang dikelilingi oleh hutan, menyimpan potensi yang besar untuk tumbuhnya berbagai tanaman obat.
Kelemahan lain adalah pengetahuan tentang tanaman obat dan cara penggunaannya hanya diketahui segelintir orang yang masih menggunakan misalnya mak beurang (dukun beranak), bengkong (dukun sunat) dan orang-orang lanjut usia. Tidak ada dokumentasi tertulis yang ditemukan, semua mengandalkan ingatan di kepala. Proses regenerasi dan transfer pengetahuan juga hampir terputus dengan rendahnya minat anak-anak muda untuk mempelajari hal tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, Peka Indonesia merasakan kekhawatiran hilangnya pengetahuan lokal sebagai bagian dari budaya yang sangat berharga.
Berusaha mencari solusi dari permasalahan diatas, diskusi antara audiens mengarah pada pentingnya dirumuskan dan dikembangkan kegiatan yang terbaik untuk terus melestarikan pengetahuan dan jenis tumbuhannya. Faktor ekonomi, konservasi dan budaya harus diramu menjadi kegiatan yang bergengsi dan menarik bagi masyarakat, sehingga diharapkan masyarakat akan sadar dan mandiri dalam melestarikan dan memanfaatkan tanaman di sekitarnya. (nw)
Memperingati hari Lingkungan Hidup, pada Kamis 4 Juni 2009, RS Persahabatan yang menyatakan diri sebagai Green Hospital, menyelenggarakan Seminar yang berjudul “Healthy Life Trend”.


