Category Archives: community
Hutan, dari sekelumit telisik akan “kejatuhan” manusia di bumi
Manusia turun ke bumi sebagai pengemban titah suci,. Sakral memang terasa amanat ini, dalam suatu lingkup dimensi spiritual. Dalam risalah Qur’an malaikat sempat memprotes diciptakanya manusia. “Manusia adalah mahkluk pembuat mala” kira-kira seperti itu malaikat berkata. Memang manusia jadi tercipta dan “terlempar “ ke bumi sebagai konsekwansi ulahnya sendiri, konon karena tidak kuat akan godaan melenakan dari iblis.
Bumi sebelum kehadiran mahkluk ini adalah ekosistem yang koheren, di mana keterjalinan setiap elemennya adalah desain yang “sempurna”. Hutan, sungai, laut dan gunung adalah “tata” dengan getar takzim yang selalu menyebutNya dengan frekuensi yang kita sulit untuk menginsafi. Bagitulah yang agung itu memenuhi bumi. Setelah “kejatuhan” manusia memang menjadi lain. “Laku” baru hadir dengan ritual dan alur yang tidak biasa. Akal, dimensi asing, karena manusia saja yang memiliki, adalah anugerah sekaligus senjata, perangkat mengkonstruksi sekaligus mendekonstruksi apapun itu “tata” yang kurang atau dianggap tidak selaras. Barangkat dari sistem ini, sebenarnya represi terhadap alam sedang dimulai, laku dengan antroposentris tengah diperagakan hingga ribuan tahun. Ketegangan tercipta antara jumlah manusia yang terus meningkat dan sumberdaya alam yang terbatas.
Burung dan Tumbuhan Obat di pertemuan JPL
Presentasi Adi Kristanto yang berjudul “Peranan ruang terbuka hijau bagi perkembangan burung di Jakarta” menuntut kepedulian audiens. Mewakili Bird Watch Community ia mengatakan bahwa ruang terbuka hijau kota Jakarta yang menjadi tempat tinggal, singgah dan mencari makan bagi berbagai jenis burung masih berada di bawah luas ideal yang seharusnya 30% dari total luas
wilayah Jakarta. Ruang terbuka Hijau seperti Monas, Hutan di Muara Angke dan wilayah hijau di sekitar condet dan Jakarta Selatan adalah beberapa yang tersisa untuk burung-burung.
Hewan yang diminati untuk dipelihara karena keunikan bulu, suara atau penampilannya ini semakin berkurang jenisnya. Berdasarkan data pengamatan dari Bird Watch Community, di wilayah pesisir Jakarta sedikitnya 6 jenis burung terancam punah. Jumlah ini akan terus bertambah apabila tidak ada tindakan yang nyata untuk mengatasi permasalahan ini.
Sebuah Penghargaan bagi Pejuang Lingkungan
Dalam pemberian penghargaan Kehati Award, 26 Mei 2009, tampillah pejuang-pejuang lingkungan yang dengan gigih menjaga lingkungannya untuk tetap lestari. Aksi nyata mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan patut dihargai dan dilanjutkan.
Salah satunya adalah Prakarsa Lestari Kehati dimenangkan oleh Masyarakat Adat Hutan Wonosadi Gunung Kidul, DIY, yang berhasil menyelamatkan hutan adat seluas 25 Ha menjadi hutan yang hijau dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Upaya pelestarian melalui budaya dan kearifan masyarakat ini dirintis sejak 44 tahun yang lalu.
Belajar dari pengalaman ini, kita menyadari bahwa perbaikan kondisi lingkungan memerlukan waktu yang lama.Untuk itu menjaga kelestarian lingkungan adalah tanggungjawab setiap bagian masyarakat dan amanah bagi tiap generasi. Banyak hal yang dapat dilakukan, contohnya para pemenang Kehati Award yang telah melakukan Pelestarian satwa langka penyu hijau di Pulau Luar, Pemafaatan Keanekaragaman Hayati sebagai obat herbal dan meningkatkan perekonomian, Mengembangkan pertanian ramah lingkungan, dan produksi batik dengan pewarna alami.
Mengenalkan Anak Pada Lingkungan
Pengenalan anak terhadap lingkungan di sekitarnya dengan mendekatkan keanekaragaman penghuni alam pada anak-anak mulai ditumbuh-kembangkan. Salah satunya adalah melalui acara pameran interaktif yang digelar di SD Bogor Raya, Kamis, 22 April lalu. Kegiatan ini dibangun dalam rangka memperingati hari Bumi dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat mulai dari anak-anak, guru, orang tua siswa, dan lembaga swadaya masyarakat setempat. Hampir seluruh warga sekolah ini menggunakan ”dresscode” warna hijau, dinding ruang makan siswa dihiasi dengan lukisan yang bertema lingkungan hasil karya para siswa dan siswi. Dalam kesempatan ini beberapa LSM mengambil bagian dengan memperkenalkan kegiatannya kepada siswa – siswi , diantaranya RMI, Greenpeace Indonesia, Uni Konservasi Fauna, Borneo Orangutan Survival (BOS), Matoa dan beberapa kelompok penghasil produk daur ulang.
Green Leaders Forum
Apakah Green Leaders Forum (GLF) ?
Merupakan komunitas para relawan lingkungan yang peduli dan ingin membaktikan tenaga dan pikirannnya untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan.GLF ini diiniasi dan dibangun oleh Yayasan Peka Indonesia bersama dengan para relawan pembela kelestarian bumi.
Visi GLF:
Masyarakat Indonesia yang berkualitas dan berkepribadian yang mampu melakukan perubahan untuk kehidupan bumi yang lebih baik dan berkelanjutan
Misi GLF:
1.Menciptakan ruang bagi masyarakat Indonesia untuk berkontribusi dan melakukan kegiatan aksi peduli lingkungan.
2.Mendorong terwujudnya komunitas hijau yang lebih luas untuk bersama membangun bangsa yang peduli terhadap lingkungannya.
3.Meningkatkan kapasitas masyarakat Indonesia dalam melakukan konservasi alam.
4.Memberikan layanan publik dalam bidang-bidang terkait ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendidikan.


