<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yayasan Peduli Konservasi Alam Indonesia - PEKA-INDONESIA.ORG &#187; climate change</title>
	<atom:link href="http://www.peka-indonesia.org/category/climate-change/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.peka-indonesia.org</link>
	<description>Konservasi, Yayasan, Foundation, Indonesia, Indonesia Foundation, Indonesia Conservation Foundation, Konservasi Hutan, Konservasi Alam Indonesia, Pendidikan Lingkungan, Pengembangan Masyarakat, Serangga, Penelitian Serangga, Insect Conservation, Insect Research, PEKA Indonesia Foundation, Peduli Konservasi Alam Indonesia Foundation</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Nov 2009 14:21:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kampanye Tentang Adaptasi dan Mitigasi Pemanasan Global</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/kampanye-tentang-adaptasi-dan-mitigasi-pemanasan-global/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/kampanye-tentang-adaptasi-dan-mitigasi-pemanasan-global/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 03:25:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[climate change]]></category>
		<category><![CDATA[events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=398</guid>
		<description><![CDATA[Green Festival, Botani Square 11-26 April 2006.
Pemanasan global telah menjadi isu penting yang hangat diperbincangkan.  Perubahan iklim merupakan dampak dari pemanasan global yang bisa dirasakan oleh  penduduk dari berbagai penjuru dunia.  Akibat nyata dari perubahan iklim  yang sangat dirasakan adalah musibah banjir, kekeringan, dan timbulnya berbagai wabah penyakit.   Oleh karena itu tema yang diangkat dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Green Festival, Botani Square 11-26 April 2006.</em></p>
<p>Pemanasan global telah menjadi isu penting yang hangat diperbincangkan.  Perubahan iklim merupakan dampak dari pemanasan global yang bisa dirasakan oleh  penduduk dari berbagai penjuru dunia.  Akibat nyata dari perubahan iklim  yang sangat dirasakan adalah musibah banjir, kekeringan, dan timbulnya berbagai wabah penyakit.   Oleh karena itu tema yang diangkat dalam Green Festival untuk memperingati hari bumi 22 April adalah Pemanasan Global: Mitigasi dan Adaptasi. Green Festival ini diselenggarakan oleh . Jaringan Pendidikan Lingkungan (JPL) dan Botani Square mulai tanggal 11-26 April 2009 di lantai 3 Mal Botani Square.  Termasuk dalam rangkaian kegiatan Green Festival adalah pameran LSM lingkungan, Diskusi, Pemutaran film lingkungan dan Pentas Seni.</p>
<p><a href="http://img17.imageshack.us/img17/5069/pameran2.jpg" rel="lightbox"><img class="alignleft" src="http://img17.imageshack.us/img17/5069/pameran2.jpg" alt="" width="450" height="302" /></a></p>
<p>Peka Indonesia sebagai anggota  JPL, berperan aktif  dalam pameran Green Festival dengan membuka stand yang memaparkan informasi tentang  edukasi, promosi, dan fasilitasi.</p>
<p>Edukasi berisikan informasi lingkungan yang menjadi kerja Peka Indonesia. Salah satunya informasi hasil penelitian keanekaragaman serangga dan katak. Dalam pameran ini dipamerkan spesimen penelitian yang ditata dengan baik sehingga menarik minat pengunjung untuk mengetahui tentang spesimen tersebut. Dalam kesempatan itu kami terbuka untuk diskusi dan tanya jawab seputar masalah lingkungan dan penelitian serangga-katak. Informasi ini penting untuk menambah wawasan pengunjung karena Global Warming tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga pada hewan kecil yang sering diabaikan seperti serangga dan katak.</p>
<p>Selain itu juga dipamerkan dan dijual contoh hasil kerajinan masyarakat Halimun seperti miniatur leuit dan tas anyam. Kami juga mempromosikan produk sayuran organik, yang ditanam oleh petani binaan Peka Indonesia dari daerah Cisarua, Gunung Salak. Dengan semakin dikenalnya dan luasnya pemasaran produk kerajinan masyarakat Halimun dan produk sayur organik petani Cisarua-Gunung Salak diharapkan kedepannya dapat membantu meningkatkan perekonomian mereka, sehingga sebagai masyarakat yang tinggal di kawasan hutan, mampu bersama-sama menjaga kelestarian hutan tanpa mengorbankan lebih besar kebutuhan ekonomi mereka.</p>
<p><a href="http://img17.imageshack.us/img17/7465/pameran1.jpg"  rel="lightbox"> <img class="alignleft" src="http://img17.imageshack.us/img17/7465/pameran1.jpg" alt="" width="450" height="302" /></a></p>
<p>Bagi setiap orang yang tertarik dan ingin berpartisipasi dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan dapat bergabung dalam Green Leaders Forum (GLF). GLF adalah komunitas pecinta lingkungan yang bernaung di bawah Peka Indonesia untuk melakukan kegiatan-kegiatan lingkungan sesuai dengan bidang dan kemampuan para member GLF. GLF berhasil</p>
<p>Tidak ketinggalan informasi-informasi dalam bentuk leaflet tentang konservasi kawasan hutan koridor Halimun-Salak, Pertanian Organik, Pendidikan Lingkungan untuk siswa sekolah dasar, Global Warming kami berikan kepada pengunjung. Semoga kegiatan ini semakin meningkatkan kepedulian masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan bagi manusia, dan alam sekitarnya.(nw)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/kampanye-tentang-adaptasi-dan-mitigasi-pemanasan-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2100 Bumi Akan Panas Sekali</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/2100-bumi-akan-panas-sekali/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/2100-bumi-akan-panas-sekali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 09:36:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[climate change]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=372</guid>
		<description><![CDATA[COLORADO, KOMPAS.com — Ancaman pemanasan global masih dapat dihilangkan dalam jumlah sangat besar jika semua negara memangkas buangan gas rumah kaca, yang memerangkap panas, sampai 70 persen pada abad ini, demikian hasil satu analisis baru.


Meskipun temperatur global akan naik, sebagian aspek perubahan iklim yang paling berpotensi menimbulkan bahaya terhadap, termasuk kehilangan besar es laut Kutub [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>COLORADO, KOMPAS.com </strong>— Ancaman pemanasan global masih dapat dihilangkan dalam jumlah sangat besar jika semua negara memangkas buangan gas rumah kaca, yang memerangkap panas, sampai 70 persen pada abad ini, demikian hasil satu analisis baru.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Meskipun temperatur global akan naik, sebagian aspek perubahan iklim yang paling berpotensi menimbulkan bahaya terhadap, termasuk kehilangan besar es laut Kutub Utara dan tanah beku serta kenaikan mencolok permukaan air laut, dapat dihindari.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.kompas.com/data/photo/2008/10/26/102129p.jpg"  rel="lightbox"><img class="aligncenter" title="World Heat" src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/10/26/102129p.jpg" alt="" width="298" height="225" /></a></p>
<p>Studi tersebut, yang dipimpin oleh beberapa ilmuwan dari National Center for Atmospheric Research (NCAR), direncanakan disiarkan pekan depan di dalam Geophysical Research Letters. Penelitian itu didanai oleh Department of Energy dan National Science Foundation, penaja NCAR.</p>
<p>&#8220;Penelitian ini menunjukkan kita tidak lagi dapat menghindari pemanasan mencolok selama abad ini,&#8221; kata ilmuwan NCAR Warren Washington, pemimpin peneliti tersebut.</p>
<p>Temperatur rata-rata global telah bertambah hangat mendekati 1 derajat celsius (hampir 1,8 derajat fahrenheit) sejak era pra-industri. Kebanyakan pemanasan disebabkan oleh buangan gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, terutama karbon dioksida.</p>
<p>Gas yang memerangkap panas itu telah naik dari tingkat era pra-industri sekitar 284 bagian per juta (ppm) di atmosfer jadi lebih dari 380 ppm hari ini.</p>
<p>Sementara penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pemanasan tambahan sebesar 1 derajat celsius (1,8 derajat fahrenheit) mungkin menjadi permulaan bagi perubahan iklim yang berbahaya, Uni Eropa telah menyerukan pengurangan dramatis buangan gas karbon dioksida dan gas rumah kaca. Kongres AS juga sedang membahas masalah itu.</p>
<p>Guna mengkaji dampak pengurangan semacam itu terhadap iklim di dunia, Washington dan rekannya melakukan kajian superkomputer global dengan menggunakan Community Climate System Model, yang berpusat di NCAR.</p>
<p>Mereka berasumsi, tingkat karbon dioksida dapat dipertahankan pada angka 450 ppm pada penghujung abad ini. Jumlah tersebut berasal dari US Climate Change Science Program, yang telah menetapkan 450 ppm sebagai sasaran yang bisa dicapai jika dunia secara cepat menyesuaikan tindakan pelestarian dan teknologi hijau baru guna mengurangi buangan gas secara dramatis.</p>
<p>Sebaliknya, buangan gas sekarang berada di jalur menuju tingkat 750 ppm paling lambat pada 2100 jika tak dikendalikan.</p>
<p>Hasil tim tersebut memperlihatkan kalau karbon dioksida ditahan pada tingkat 450 ppm, temperatur global akan naik sebesar 0,6 derajat celsius (sekitar 1 derajat fahrenheit) di atas catatan saat ini sampai akhir abad ini.</p>
<p>Sebaliknya, studi itu memperlihatkan, temperatur akan naik hampir sebesar empat kali jumlah tersebut, jadi 2,2 derajat celsius (4 derajat fahrenheit) di atas catatan saat ini, kalau buangan gas dibiarkan terus berlanjut di jalurnya saat ini.</p>
<p>Menahan tingkat karbon dioksida pada angka 450 ppm akan memiliki dampak lain, demikian perkiraan studi contoh iklim itu.</p>
<p>Kenaikan permukaan air laut akibat peningkatan panas karena temperatur air menghangat akan menjadi 14 sentimeter (sekitar 5,5 inci) dan bukan 22 sentimeter (8,7 inci). Kenaikan mencolok permukaan air laut diperkirakan akan terjadi karena pencairan lapisan es dan gletser.</p>
<p>Volume es Kutub Utara pada musim panas menyusut sebanyak seperempat dan diperkirakan akan stabil paling lambat pada 2100. Suatu penelitian telah menyatakan, es musim panas akan hilang sama sekali pada abad ini jika buangan gas tetap pada tingkat saat ini.</p>
<p>Pemanasan Kutub Utara akan berkurang separuhnya sehingga membantu melestarikan populasi ikan dan burung laut serta hewan mamalia laut di wilayah seperti di bagian utara Laut Bering.</p>
<p>Perubahan salju regional secara mencolok, termasuk penurunan salju di US Southwest dan peningkatan di US Norhteast serta Kanada, akan berkurang sampai separuh kalau buangan gas dapat dipertahankan pada tingkat 450 ppm.</p>
<p>Sistem cuaca itu akan stabil sampai sekitar 2100, dan bukan terus menghangat. Tim penelitian tersebut menggunakan simulasi superkomputer guna membandingkan skenario peristiwa biasa melalui pengurangan dramatis buangan karbon dioksida yang dimulai dalam waktu sekitar satu dasawarsa.</p>
<p>Penulis kajian tersebut menegaskan, mereka tidak mengkaji bagaimana pengurangan seperti itu dapat dicapai atau menyarankan kebijakan tertentu.</p>
<p>&#8220;Tujuan kami ialah menyediakan bagi pembuat kebijakan penelitian yang sesuai sehingga mereka dapat membuat keputusan setelah mendapat keterangan,&#8221; kata Washington.</p>
<p>&#8220;Studi ini menyediakan suatu harapan bahwa kita dapat menghindari dampak terburuk perubahan iklim, jika masyarakat dapat mengurangi buangan dalam jumlah besar selama beberapa dasawarsa mendatang dan melanjutkan pengurangan utama sepanjang abad ini.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong><br />
<em><span style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: #999999;">Sumber : Antara</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/2100-bumi-akan-panas-sekali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia Menjadi Tuan Rumah Pertemuan Perubahan Iklim IPCC</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/indonesia-menjadi-tuan-rumah-pertemuan-perubahan-iklim-ipcc/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/indonesia-menjadi-tuan-rumah-pertemuan-perubahan-iklim-ipcc/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 09:31:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[climate change]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=370</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA - Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan internasional mengenai perubahan iklim yang digelar Panel Internasional tentang Perubahan Iklim (IPCC) pada Oktober mendatang. Sekitar 500 ilmuwan dan pakar iklim dari berbagai negara akan berpartisipasi dalam petemuan tersebut.
Menteri Perubahan Iklim Dewan Nasional Agus Purnomo mengatakan bahwa rapat IPCC akan menjadi moment penting bagi Indonesia untuk meyakinkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>JAKARTA </strong>- Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan internasional mengenai perubahan iklim yang digelar Panel Internasional tentang Perubahan Iklim (IPCC) pada Oktober mendatang. Sekitar 500 ilmuwan dan pakar iklim dari berbagai negara akan berpartisipasi dalam petemuan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Menteri Perubahan Iklim Dewan Nasional Agus Purnomo mengatakan bahwa rapat IPCC akan menjadi moment penting bagi Indonesia untuk meyakinkan dunia tentang peran laut dalam menangani perubahan iklim. Pertemuan tersebut akan menjadi ajang promosi bagi Indonesia untuk menawarkan pemanfaatan laut sebagai alternatif menekan emisi global.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.kompas.com/data/photo/2008/04/08/2727487p.jpg"  rel="lightbox"><img class="aligncenter" title="Climate Change" src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/04/08/2727487p.jpg" alt="" width="435" height="290" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kami akan mencoba untuk mempromosikan isu-isu kelautan IPCC pada pertemuan ilmiah tersebut. Mudah-mudahan, mereka akan mempertimbangkan dalam agenda mendatang, &#8220;Agus kepada wartawan hari Selasa. Dia menambahkan bahwa Indonesia perlu melakukan penelitian lebih lanjut mengenai peranan laut pada perubahan iklim agar dapat dilaporkan kepada forum IPCC.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertemuan IPCC ke-31 ini akan dilaksanakan pada 26-29 Oktober. IPCC adalah lembaga tertinggi di dunia yang menangani dampak perubahan iklim. Organisasi tersebut didirikan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP).</p>
<p style="text-align: justify;">IPCC saat ini sedang menyusun laporan perubahan iklim kelima, yang direncanakan selesai pada 2014. IPCC menggunakan data-data hasil penelitian ilmiah dari berbagai lembaga riset dan tidak melakukan penelitian tersendiri atau memantau langsung dampak perubahan iklim.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/indonesia-menjadi-tuan-rumah-pertemuan-perubahan-iklim-ipcc/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Conservation of Flora and Fauna</title>
		<link>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/conservation-of-flora-and-fauna-in-the-middle-of-global-warming-and-changing-climate/</link>
		<comments>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/conservation-of-flora-and-fauna-in-the-middle-of-global-warming-and-changing-climate/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 06:25:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[climate change]]></category>
		<category><![CDATA[conservation]]></category>
		<category><![CDATA[Biodiversity]]></category>
		<category><![CDATA[Climate]]></category>
		<category><![CDATA[Climate Changes]]></category>
		<category><![CDATA[events]]></category>
		<category><![CDATA[Global Warming]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategoriez]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peka-indonesia.org/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[“CONSERVATION OF FLORA AND FAUNA IN THE MIDDLE OF
GLOBAL WARMING AND CHANGING CLIMATE&#8221;
Indonesian Miniature Garden, Jakarta- Indonesia , 22nd of  January 2008


Global warming and climate change has become a global issues and concern within the regional and international levels. In the context of national scope, this issues had grew stronger after Indonesia had been selected [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>“CONSERVATI</strong><strong>ON OF FLORA AND FAUNA IN THE MIDDLE OF<br />
GLOBAL WARMING AND CHANGING CLIMATE&#8221;</strong><br />
Indonesian Miniature Garden, Jakarta- Indonesia , 22nd of  January 2008</p>
<p><a href="http://peka-indonesia.org/conservation-of-flora-and-fauna-in-the-middle-of-global-warming-and-changing-climate/"><br />
</a></p>
<p style="text-align: justify;">Global warming and climate change has become a global issues and concern within the regional and international levels. In the context of national scope, this issues had grew stronger after Indonesia had been selected to become host of the 13th Conference of the Party to the United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC COP 13). The venue took place in Denpasar, Bali. Our earth has already experienced the phenomena of global warming and climate change which leads to hazardous climate events.&amp;nbsp; The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) has released numbers of reserch which has proved that the earth are warming and climate are changing. The IPCC is an independent scientific body under the UNFCCC.</p>
<p style="text-align: justify;">The phenomena of hazardous climate events has an enormous impact to the environment and human livelihood. Global warming and unpattern climate changes threatened farming for food security, clean water availability, human and ecosystem health. Global warming also threatened the existence of small island nations because of the rising of sea level. Eventhough climate changes has become global issue, but there are still many communities around the world who has not known and understand what is global warming and climate changes. Many of us living in developing countries are limited to information on global warming and climate changes. For many developing countries like Indonesia, efforts to develop public awareness on global warming and climate changes are urgently needed in order to enhance public understanding on the issues. In the efforts of spreading awareness on global warming and climate change, Peka Indonesia collaborating with IISES and TMII conducted one day seminar on global warming and climate change.  The seminar was conducted on January 22nd 2007 in Indonesian Miniature Garden, Jakarta with seminar theme Conservation of Flora and Fauna in the middle of changing climate and global warming The aim of this one day seminar is to spread out informations on global warming and climate change to the public especially for the staffs of Indonesian Miniature Garden. Participants will received informations on the effect of global warming to the existence of biodiversity, how we can contribute to minimize carbon emission, and how we can actively involve in the conservation of our nature environment. Thus we can minimize the effects of global warming. On this one day seminar, we invited Dr. Sony Keraf (former minister of environment) as a key note speaker. Dr Keraf gave presentation on the science of global warming and climate change and efforts initiate by countries in the world to adapt to climate change.&amp;nbsp; We also invited 5 other speaker to give prensentation on this seminar, they are, Dr. Suryo Wiyon (Department of Agriculture, IPB), Kuswandono (Gede Pangrango National Park), Dr. Rosicon Ubaidilah (Indonesian Institute of Science), and Arif (Pelangi Foundation). These five speaker gave presentations on the topic of global warming and its effect to the earth environment, effect of global warming to flora and fauna, socializing the result of UNFCCC Bali 2007, and opportunity for public involvement to reduce the effect of global warming. The seminar was attended by 150 participant, mostly from staffs of Indonesian Miniature Garden and several from public in general. We sees that forum-forum seminar like this are still needed in order to spread out the information on global warming and climate change. We envision that through good understanding, the public will increase their awareness toward global warming and will initiate an action to contribute on reducing carbon emission, thus minimalizing the hazardous effects of global warming and climate change.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peka-indonesia.org/climate-change/conservation-of-flora-and-fauna-in-the-middle-of-global-warming-and-changing-climate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
