Gajah di dunianya yang kecil
Konflik antara satwa dengan manusia tidak terelakkan juga terjadi pada gajah. Permasalahan perebutan wilayah antara gajah dan manusia juga belum berakhir. Manusia mengklaim banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh gajah. Di India menurut Prof.Raman Sukumar terjadi beberapa kasus gajah-gajah yang memakan tanaman pertanian seperti jagung dan padi. Karena merasa dirugikan oleh perilakunya, maka gajah-gajah banyak diburu untuk dibunuh, sehingga jumlahnya semakin berkurang.
Dalam seminar yang diselenggarakan Fahutan IPB dengan Peka Indonesia, beliau membeberkan beberapa hasil penelitiannya, diantaranya wilayah jelajah gajah yang semakin meluas, untuk menemukan makanan. Kawanan gajah yang jumlahnya semakin menurun, harus berjalan bermil-mil lebih jauh dibandingkan masa-masa sebelumnya. Hal ini karena wilayah hutan yang semakin sempit, tidak mencukupi kebutuhan makan mereka.
Lahan pertanianmenjadi sumber makanan baru. Gajah-gajah menyukai tanaman pertanian, selain lebih mudah didapat karena sudah ditanam secara besar, tanaman ini juga memberi nutrisi yang dibutuhkan. Seekor gajah rata-rata membutuhkan makanan sekitar 1/10 dari berat badannya, ini adalah jumlah yang cukup banyak bila diambil dari lahan pertanian.
Perlu kearifan dalam upaya-upaya untuk mengurangi dampak yang lebih besar dari konflik ini. Salah satu contohnya penduduk di India menanam tanam-tanaman yang beraroma tajam dan pedas sebagai pagar hidup. Gajah tidak menyukai aroma yang dihasilkan tanaman, sehingga akan mencari jalan lain. Dengan cara ini, secara tidak langsung menghalau gajah-gajah untuk masuk ke kawasan tertentu tanpa menyakitinya secara fisik. Penataan ruang yang tepat sangat penting, agar gajah-gajah memiliki kawasannya sendiri yang menyediakan kebutuhan makanan yang diperlukan. Membangun kesadaran untuk turut mengkonservasi keberadaan gajah dengan cara-cara yang bijak adalah solusi terbaik bagi permasalahan ini. (nw)

Tanggapan aktif dan positif dari audiens yang adalah peserta pertemuan anggota Jaringan Pendidikan Lingkungan Kamis 13 Agustus 2009 lalu juga diberikan pada presentasi kedua. Presentasi menjadi bagian acara pertemuan ini diharapkan menghidupkan kembali Jaringan Pendidikan Lingkungan yang kini diketuai oleh Koen Setyawan.