Hutan, dari sekelumit telisik akan “kejatuhan” manusia di bumi
Manusia turun ke bumi sebagai pengemban titah suci,. Sakral memang terasa amanat ini, dalam suatu lingkup dimensi spiritual. Dalam risalah Qur’an malaikat sempat memprotes diciptakanya manusia. “Manusia adalah mahkluk pembuat mala” kira-kira seperti itu malaikat berkata. Memang manusia jadi tercipta dan “terlempar “ ke bumi sebagai konsekwansi ulahnya sendiri, konon karena tidak kuat akan godaan melenakan dari iblis.
Bumi sebelum kehadiran mahkluk ini adalah ekosistem yang koheren, di mana keterjalinan setiap elemennya adalah desain yang “sempurna”. Hutan, sungai, laut dan gunung adalah “tata” dengan getar takzim yang selalu menyebutNya dengan frekuensi yang kita sulit untuk menginsafi. Bagitulah yang agung itu memenuhi bumi. Setelah “kejatuhan” manusia memang menjadi lain. “Laku” baru hadir dengan ritual dan alur yang tidak biasa. Akal, dimensi asing, karena manusia saja yang memiliki, adalah anugerah sekaligus senjata, perangkat mengkonstruksi sekaligus mendekonstruksi apapun itu “tata” yang kurang atau dianggap tidak selaras. Barangkat dari sistem ini, sebenarnya represi terhadap alam sedang dimulai, laku dengan antroposentris tengah diperagakan hingga ribuan tahun. Ketegangan tercipta antara jumlah manusia yang terus meningkat dan sumberdaya alam yang terbatas.
Spesies Asing Invasif: Akankah Mengubah Wajah Bumi Kita?
Mungkinkah wajah bumi kita akan berubah karena penyebaran spesies invasif yang begitu cepat dari tempat asalnya ke ke berbagai belahan dunia?. Pertanyaan ini muncul dalam Konferensi Internasional “Biodiversity Crisis in Tropical Islands” yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 11-13 Juni 2007 lalu. Para Ilmuwan dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia hadir pada konferensi ini untuk membicarakan berbagai isu terkait dengan krisis keanekaragaman hayati di wilayah kepulauan tropis. Salah satu isu hangat yang mengemuka adalah penyebaran spesies asing invasif dari negara asal ke berbagai penjuru dunia yang diperkirakan akan mampu mengubah lansekap permukaan bumi ini. Perubahan ini sangat dimungkinkan karena masuknya spesies asing yang bersifat invasif ke dalam suatu wilayah yang sama sekali baru akan dapat mempengaruhi keanekaragaman dan struktur komunitas organisme lokal. Umumnya, spesies seperti ini memiliki sifat mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan mampu berkompetisi dengan spesies lokal di habitat yang sama. Beberapa contoh yang dapat dengan mudah dilihat adalah tumbuhan enceng gondok (Eichornia crasipes) yang merupakan tumbuhan air yang menginvasi permukaan perairan tawar di berbagai wilayah di Indonesia, Kirinyu (Cromolaena Odorata), tumbuhan darat yang mampu menginvasi baik di dataran rendah hingga dataran tinggi, dan semut Anoplolepis gracilipes.
Gajah di dunianya yang kecil
Konflik antara satwa dengan manusia tidak terelakkan juga terjadi pada gajah. Permasalahan perebutan wilayah antara gajah dan manusia juga belum berakhir. Manusia mengklaim banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh gajah. Di India menurut Prof.Raman Sukumar terjadi beberapa kasus gajah-gajah yang memakan tanaman pertanian seperti jagung dan padi. Karena merasa dirugikan oleh perilakunya, maka gajah-gajah banyak diburu untuk dibunuh, sehingga jumlahnya semakin berkurang.
Dalam seminar yang diselenggarakan Fahutan IPB dengan Peka Indonesia, beliau membeberkan beberapa hasil penelitiannya, diantaranya wilayah jelajah gajah yang semakin meluas, untuk menemukan makanan. Kawanan gajah yang jumlahnya semakin menurun, harus berjalan bermil-mil lebih jauh dibandingkan masa-masa sebelumnya. Hal ini karena wilayah hutan yang semakin sempit, tidak mencukupi kebutuhan makan mereka.
Burung dan Tumbuhan Obat di pertemuan JPL
Presentasi Adi Kristanto yang berjudul “Peranan ruang terbuka hijau bagi perkembangan burung di Jakarta” menuntut kepedulian audiens. Mewakili Bird Watch Community ia mengatakan bahwa ruang terbuka hijau kota Jakarta yang menjadi tempat tinggal, singgah dan mencari makan bagi berbagai jenis burung masih berada di bawah luas ideal yang seharusnya 30% dari total luas
wilayah Jakarta. Ruang terbuka Hijau seperti Monas, Hutan di Muara Angke dan wilayah hijau di sekitar condet dan Jakarta Selatan adalah beberapa yang tersisa untuk burung-burung.
Hewan yang diminati untuk dipelihara karena keunikan bulu, suara atau penampilannya ini semakin berkurang jenisnya. Berdasarkan data pengamatan dari Bird Watch Community, di wilayah pesisir Jakarta sedikitnya 6 jenis burung terancam punah. Jumlah ini akan terus bertambah apabila tidak ada tindakan yang nyata untuk mengatasi permasalahan ini.
10 FAKTA ISTIMEWA: SERANGGA

1. Lalat rumah dapat menemukan gula dengan menggunakan sensor di tungkai (kaki) nya.Sensor ini 10 juta kali lebih sensitif dibandingkan lidah manusia.
2. Pada saat mencari makanan, lebah dapat terbang sejauh 60 mil (96,5 kilometer) dalam 1 hari
3. Seekor semut dapat mengangkat sesuatu dengan berat hingga 50 kali berat badannya.
4. Ratu dari spesies rayap tertentu dapat menghasilkan 40.000 telur dalam 1 hari.
Hidup Sehat dengan Produk Organik
Memperingati hari Lingkungan Hidup, pada Kamis 4 Juni 2009, RS Persahabatan yang menyatakan diri sebagai Green Hospital, menyelenggarakan Seminar yang berjudul “Healthy Life Trend”.
Seminar diawali dengan penjelasan tentang pola makan yang baik untuk kesehatan dan keindahan tubuh oleh dr.Paidon, penulis buku Fat Loss not Weight Loss. Para audiens yang kebanyakan ibu-ibu sangat menyukai materi yang sangat apik dan disampaikan dengan santai dan komunikatif. Sang dokter banyak memberikan tips dan trik untuk memilih bahan makanan yang cocok dan kegiatan yang mendukung pola hidup sehat.
Seminar dilanjutkan dengan pengenalan akan produk-produk organik yang disampaikan oleh Ibu Bibong dari Rumah Organik. Sebagai perwakilan dari konsumen produk organik, audiens diminta untuk dapat membedakan kualitas dari produk pertanian organik dengan produk pertanian konvensional. Hasilnya, sepakat bahwa produk organik memiliki keunggulan dari segi kualitas produk, rasa dan keamanannya karena tidak mengandung zat kimia tambahan yang biasanya tercampur melalui pupuk ataupun pestisida.
Sebuah Penghargaan bagi Pejuang Lingkungan
Dalam pemberian penghargaan Kehati Award, 26 Mei 2009, tampillah pejuang-pejuang lingkungan yang dengan gigih menjaga lingkungannya untuk tetap lestari. Aksi nyata mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan patut dihargai dan dilanjutkan.
Salah satunya adalah Prakarsa Lestari Kehati dimenangkan oleh Masyarakat Adat Hutan Wonosadi Gunung Kidul, DIY, yang berhasil menyelamatkan hutan adat seluas 25 Ha menjadi hutan yang hijau dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Upaya pelestarian melalui budaya dan kearifan masyarakat ini dirintis sejak 44 tahun yang lalu.
Belajar dari pengalaman ini, kita menyadari bahwa perbaikan kondisi lingkungan memerlukan waktu yang lama.Untuk itu menjaga kelestarian lingkungan adalah tanggungjawab setiap bagian masyarakat dan amanah bagi tiap generasi. Banyak hal yang dapat dilakukan, contohnya para pemenang Kehati Award yang telah melakukan Pelestarian satwa langka penyu hijau di Pulau Luar, Pemafaatan Keanekaragaman Hayati sebagai obat herbal dan meningkatkan perekonomian, Mengembangkan pertanian ramah lingkungan, dan produksi batik dengan pewarna alami.
Pengetahuan etnobotani bagi Kelestarian Lingkungan
Istilah etnobotani dipahami sebagai suatu bidang ilmu yang mempelajari interaksi masyarakat dengan lingkungan hidupnya, khususnya tumbuhan. Tumbuhan memberikan manfaat yang begitu besar bagi manusia melalui berbagai khasiat yang dimilikinya, mulai dari kandungan nutrisi, hingga kedahsyatan metabolit sekunder yang dihasilkan baik untuk kesehatan (obat-obatan), pakan ternak, dan pestisda botani. Pengetahuan manusia tentang manfaat tanaman ini sebenarnya telah dimulai sejak berabad-abad lalu dan diturunkan kepada anak cucu hingga sekarang. Bahkan bidang kedokteran saat ini juga telah banyak mengembangkan obat-obatan yang berasal dari senyawa yang dihasilkan tanaman.
Namun demikian, dari sekian banyak manfaat tanaman, baru sedikit yang diketahui dan dimanfaatkan luas oleh masyarakat. Beberapa yang sangat terkenal diantaranya obat-obatan tradisional masyarakat Jawa Klasik, yang kemudian banyak dikomersialkan menjadi berbagai jenis obat herbal. Sebenarnya pengetahuan tentang pemanfaatan tanaman yang masih belum banyak digali adalah kearifan tradisional masyarakat asli daerah tertentu yang tidak banyak berinteraksi dengan modernisasi. Pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan ini, biasanya diketahui secara turun temurun dan bersifat sebagai pengetahuan lokal sehingga menjadi ciri dari suatu masyarakat tradisional. Seiring dengan percepatan modernisasi yang telah menyentuh daerah masyarakat tradisional, sangat penting untuk mendokumentasikan pengetahuan lokal ini agar tetap lestari dan tidak hilang seiring dengan laju gaya hidup kota yang sedikit banyak telah mempengaruhi generasi muda dari masyarakat tradisional.
Mengenalkan Anak Pada Lingkungan
Pengenalan anak terhadap lingkungan di sekitarnya dengan mendekatkan keanekaragaman penghuni alam pada anak-anak mulai ditumbuh-kembangkan. Salah satunya adalah melalui acara pameran interaktif yang digelar di SD Bogor Raya, Kamis, 22 April lalu. Kegiatan ini dibangun dalam rangka memperingati hari Bumi dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat mulai dari anak-anak, guru, orang tua siswa, dan lembaga swadaya masyarakat setempat. Hampir seluruh warga sekolah ini menggunakan ”dresscode” warna hijau, dinding ruang makan siswa dihiasi dengan lukisan yang bertema lingkungan hasil karya para siswa dan siswi. Dalam kesempatan ini beberapa LSM mengambil bagian dengan memperkenalkan kegiatannya kepada siswa – siswi , diantaranya RMI, Greenpeace Indonesia, Uni Konservasi Fauna, Borneo Orangutan Survival (BOS), Matoa dan beberapa kelompok penghasil produk daur ulang.
Balad Kuring Kabupaten Bogor
Sabtu 30 Mei 2009, Cibinong, Pemerintah Kabupaten Bogor menggelar acara Balad Kuring yang dilakukan serentak di Seluruh Kabupaten dan Kota yang ada di Jawa Barat. Acara dibuka oleh Wakil Bupati Kabupaten Bogor, di Jalan Tegar Beriman yang bebas kendaraan bermotor (car free) dan diisi dengan jalan santai dan sepeda santai. Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup dan jajaran pemerintah kabupaten bogor melibatkan beberapa LSM lokal seperti Peka Indonesia, Jejak, IISES, dan PILI.


